HOME  ⁄  Geopolitik

Iran Tuntut AS Cairkan 50 Persen Aset Beku Setelah Penandatanganan Nota Kesepahaman

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Iran Tuntut AS Cairkan 50 Persen Aset Beku Setelah Penandatanganan Nota Kesepahaman
Foto: (Sumber : Ilustrasi - Amerika Serikat dan Iran. /ANTARA/Anadolu/py.)

Pantau - Iran menuntut Amerika Serikat segera mencairkan sedikitnya 50 persen aset asing miliknya yang dibekukan setelah penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding atau MoU) terkait penyelesaian konflik dan isu nuklir antara kedua negara.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan pencairan sebagian aset tersebut menjadi syarat utama yang diajukan Teheran dalam proses negosiasi dengan Washington.

“Iran bersikeras, sedikitnya, 50 persen aset beku harus dicairkan kepada Teheran segera setelah nota kesepahaman ditandatangani, dengan sisanya menyusul dalam jangka waktu yang wajar,” ungkap Gharibabadi seperti dikutip kantor berita Mehr.

Iran Minta Pencairan Aset Senilai 24 Miliar Dolar AS

Sebelumnya, kantor berita Tasnim pada Mei 2026 melaporkan Iran mengajukan proposal penyelesaian 14 poin kepada Amerika Serikat.

Dalam proposal tersebut, Teheran meminta pencairan aset asing senilai 24 miliar dolar AS atau sekitar Rp432 triliun yang selama ini dibekukan.

Berdasarkan usulan itu, setengah dari nilai aset atau sekitar 12 miliar dolar AS diharapkan dapat dicairkan segera setelah kedua pihak mencapai nota kesepahaman.

Sementara sisa dana lainnya diusulkan dicairkan pada tahap berikutnya setelah proses negosiasi terkait program nuklir Iran mencapai kemajuan lebih lanjut.

Negosiasi Masih Berlangsung

Tasnim juga melaporkan perkembangan terkait pencairan tahap pertama aset tersebut, meski belum ada rincian resmi mengenai waktu pelaksanaannya.

Tuntutan pencairan aset menjadi salah satu isu penting dalam pembahasan hubungan Iran dan Amerika Serikat yang selama bertahun-tahun diwarnai sanksi ekonomi serta perselisihan terkait program nuklir Teheran.

Informasi mengenai tuntutan terbaru Iran ini disampaikan berdasarkan laporan kantor berita Sputnik dan RIA Novosti yang mengutip pernyataan pejabat Iran.

Penulis :
Aditya Yohan