HOME  ⁄  Geopolitik

IRGC Klaim Serang Pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain Sebagai Balasan Serangan Drone Amerika

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

IRGC Klaim Serang Pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain Sebagai Balasan Serangan Drone Amerika
Foto: (Sumber : Asap mengepul setelah serangan pesawat tak berawak Iran menghantam tangki bahan bakar di Bandara Internasional Kuwait di Kota Kuwait, Kuwait pada Rabu (1/4/2026). (ANTARA/Anadolu Agency).)

Pantau - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah melancarkan serangan rudal balistik ke pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait dan Bahrain sebagai balasan atas serangan drone AS terhadap sejumlah lokasi di wilayah Iran.

Serangan tersebut diumumkan IRGC pada Sabtu (6/6) melalui laporan Tasnim News yang menyebut Angkatan Udara IRGC menargetkan Pangkalan Udara Ali al-Salem di Kuwait serta fasilitas utama Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain.

IRGC menyatakan aksi itu dilakukan sebagai respons atas serangan drone Amerika terhadap menara telekomunikasi di Pulau Qeshm dan sebuah menara di Sirik.

Iran Ancam Tutup Selat Hormuz

Selain meluncurkan serangan rudal, IRGC juga memperingatkan bahwa setiap agresi lanjutan dari Amerika Serikat dapat memicu respons yang lebih besar.

IRGC mengancam akan melakukan penutupan total Selat Hormuz yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dan gas dunia jika serangan terhadap Iran terus berlanjut.

Ancaman tersebut langsung memicu kekhawatiran pasar energi global karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis bagi distribusi energi internasional.

Ketegangan Kawasan Terus Meningkat

Ketegangan di Timur Tengah meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran pada akhir Februari 2026.

Serangan tersebut memicu rangkaian aksi balasan dari Iran yang menargetkan wilayah Israel serta negara-negara yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat.

Iran juga dituduh mengganggu aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital pasokan energi dunia.

Meski gencatan senjata telah diberlakukan untuk membuka ruang diplomasi, upaya mencapai kesepakatan yang lebih luas antara pihak-pihak yang bertikai hingga kini masih terus berlangsung.

Penulis :
Ahmad Yusuf