HOME  ⁄  Geopolitik

China Dorong Tata Kelola AI Global Berbasis Konsensus Luas dan Kerja Sama Internasional

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

China Dorong Tata Kelola AI Global Berbasis Konsensus Luas dan Kerja Sama Internasional
Foto: (Sumber :Arsip foto - Wakil Presiden China Han Zheng memberikan pidato pada resepsi peringatan 50 tahun hubungan diplomatik antara China dan Uni Eropa (UE) di Beijing, China (6/5/2025). ANTARA/Xinhua/Li Tao/aa..)

Pantau - China mendorong pembentukan sistem tata kelola kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) global berdasarkan konsensus luas dengan memanfaatkan Konferensi AI Dunia dan Pertemuan Tingkat Tinggi tentang Tata Kelola AI Global sebagai wadah memperkuat kerja sama internasional.

Wakil Presiden China Han Zheng menyampaikan hal tersebut saat membuka Forum Perdamaian Dunia (World Peace Forum/WPF) ke-14 di Beijing, Jumat.

Han mengatakan China telah mengajukan Inisiatif Tata Kelola AI Global yang mengedepankan pendekatan berpusat pada manusia serta pengembangan AI demi kepentingan umat manusia.

Ia juga menilai dunia sedang menghadapi percepatan transformasi yang diiringi meningkatnya ketidakstabilan, konflik geopolitik, risiko global, dan defisit tata kelola.

Han mengungkapkan Presiden China Xi Jinping telah mengemukakan Inisiatif Tata Kelola Global (Global Governance Initiative/GGI) untuk mendorong sistem tata kelola dunia yang lebih adil dan setara.

Han mengatakan China terus menjunjung tinggi peran sentral Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam urusan internasional serta menjalankan tanggung jawabnya sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB.

Ia menyatakan China siap bekerja sama dengan seluruh negara untuk menjaga tatanan internasional pascaperang serta menegakkan keadilan dan kesetaraan internasional.

Sebagai tuan rumah Pertemuan Para Pemimpin Ekonomi APEC ke-33, China juga akan memperkuat kerja sama dengan seluruh mitra guna membangun komunitas Asia-Pasifik.

Han menambahkan China akan terus memperluas keterbukaan berstandar tinggi dan mendorong globalisasi ekonomi yang inklusif serta memberikan manfaat luas bagi semua negara.

Forum tersebut dihadiri sekitar 400 peserta yang terdiri atas mantan pejabat tinggi politik luar negeri, utusan diplomatik untuk China, serta akademisi dari dalam dan luar negeri.

Penulis :
Aditya Yohan