HOME  ⁄  Geopolitik

AS Tetap Memantau China dan Sembilan Mitra Dagang dalam Daftar Pengawasan Nilai Tukar Mata Uang

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

AS Tetap Memantau China dan Sembilan Mitra Dagang dalam Daftar Pengawasan Nilai Tukar Mata Uang
Foto: Arsip - Presiden China Xi Jinping bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Busan, Korea Selatan, Kamis 30/10/2025 (sumber: Xinhua/Shen Hong)

Pantau - Departemen Keuangan Amerika Serikat mempertahankan China, Jepang, Thailand, serta tujuh mitra dagang utama lainnya dalam daftar pemantauan terkait praktik valuta asing yang dinilai berpotensi tidak adil berdasarkan laporan semester kepada Kongres AS yang dirilis pada Kamis (23/7), meski tidak ada satu pun negara yang ditetapkan sebagai manipulator mata uang.

Laporan tersebut mengevaluasi praktik ekonomi dan kebijakan mata uang berbagai negara selama tahun 2025.

Penetapan sebagai manipulator mata uang dapat berujung pada penerapan sanksi oleh Amerika Serikat.

China tetap menjadi sorotan utama di antara mitra dagang besar Amerika Serikat karena dinilai kurang transparan dalam kebijakan dan praktik nilai tukarnya.

Selain China, Jepang dan Thailand juga tetap berada dalam daftar pemantauan bersama Jerman, Irlandia, Singapura, Korea Selatan, Swiss, Taiwan, dan Vietnam.

Kriteria Penilaian Departemen Keuangan AS

Departemen Keuangan Amerika Serikat menggunakan tiga kriteria untuk menilai apakah suatu negara memanipulasi nilai tukar mata uangnya demi memperoleh keuntungan perdagangan yang tidak adil.

Ketiga kriteria tersebut meliputi surplus perdagangan dengan Amerika Serikat minimal 15 miliar dolar AS, surplus neraca berjalan minimal 3 persen dari produk domestik bruto (PDB), serta intervensi yang terus-menerus dan sepihak di pasar valuta asing.

Suatu mitra dagang utama Amerika Serikat akan dimasukkan ke dalam daftar pemantauan apabila memenuhi dua dari tiga kriteria tersebut.

Jepang Dinilai Transparan Meski Yen Melemah

Mengenai Jepang, laporan menyatakan negara tersebut tidak melakukan intervensi di pasar valuta asing selama periode penilaian.

Jepang juga dinilai sangat transparan dalam aktivitas intervensi valuta asing melalui publikasi data bulanan dalam bentuk agregat serta rincian intervensi harian yang diterbitkan setiap tiga bulan.

Laporan tersebut turut mencatat bahwa nilai tukar yen terus melemah meskipun selisih suku bunga antara Amerika Serikat dan Jepang semakin menyempit.

Departemen Keuangan Amerika Serikat mengungkapkan, “Meskipun faktor-faktor global, seperti volatilitas pasar keuangan dan harga minyak kemungkinan besar telah berpengaruh pada nilai tukar yen, volatilitas yang berlebihan pada yen tidak diinginkan.”

Penulis :
Arian Mesa