
Pantau - Pemerintah China mendorong pembentukan komunitas kecerdasan buatan (AI) berbasis open source atau sumber terbuka yang inklusif di lingkungan BRICS sebagai bagian dari penguatan kerja sama teknologi negara-negara anggota.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun mengatakan usulan tersebut disampaikan Presiden China Xi Jinping dalam KTT ke-18 BRICS di New Delhi, India, Minggu (13/9/2026).
"Dalam KTT ke-18 BRICS, Presiden Xi Jinping mengusulkan inisiatif AI sumber terbuka (open source) yang inklusif, inisiatif kerja sama industri digital, serta inisiatif kerja sama manufaktur cerdas," kata Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Senin (14/9/2026).
China juga berencana membangun ekosistem digital komputasi awan BRICS serta meluncurkan program pertukaran pemuda untuk inovasi sains dan teknologi.
"Presiden Xi mengumumkan sejumlah langkah kerja sama konkret. China akan menjadi pelopor dalam pembentukan komunitas AI sumber terbuka (open source) di dalam BRICS, membangun ekosistem digital komputasi awan BRICS, dan meluncurkan program pertukaran pemuda BRICS untuk inovasi sains dan teknologi," tambah Guo Jiakun.
China Dorong Akses Teknologi bagi Global South
Guo mengatakan China berkomitmen mendukung negara-negara Global South meningkatkan kapasitas sekaligus memperoleh manfaat yang setara dari perkembangan teknologi baru.
Menurut dia, Xi menggambarkan perjalanan pembangunan BRICS melalui tiga hal, yakni kemandirian dan penguatan diri, kebersamaan dalam menghadapi suka dan duka, serta hasil yang bermanfaat.
"Presiden Xi menggarisbawahi bahwa selama dua dekade terakhir, BRICS telah berkembang dengan semangat dan vitalitas yang kuat, serta menjadi platform kerja sama paling berpengaruh di dunia saat ini bagi negara-negara berkembang," ungkap Guo Jiakun.
Xi juga menyerukan BRICS menjadi pelopor pembangunan berbasis inovasi, memprioritaskan perdamaian dan stabilitas, memfasilitasi pembelajaran antarperadaban, serta mendorong reformasi tata kelola global.
"Negara-negara Global South harus bersama-sama mempertahankan supremasi hukum dalam urusan internasional, menjunjung tinggi semangat multilateralisme, tetap berkomitmen pada filosofi pembangunan yang berpusat pada rakyat, bersama-sama memajukan tata kelola keamanan, mengarahkan tatanan internasional ke arah yang lebih adil dan setara, serta bekerja sama membangun komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia," jelas Guo Jiakun.
China Akan Pimpin BRICS pada 2027
China akan mengambil alih keketuaan BRICS pada 2027 sekaligus menjadi tuan rumah KTT ke-19 BRICS.
"China akan mengambil alih keketuaan BRICS tahun depan dan menjadi tuan rumah KTT ke-19 BRICS. Kami akan membangun konsensus dan bekerja sama dengan semua pihak untuk merencanakan masa depan sehingga dapat bersama-sama mengantarkan dekade emas ketiga BRICS serta membuka masa depan cerah bagi kemakmuran dan kemajuan bersama," tegas Guo Jiakun.
Keketuaan BRICS berlangsung selama satu tahun, mulai 1 Januari hingga 31 Desember, dengan negara pemimpin dapat menetapkan prioritas agenda serta menyelenggarakan KTT tahunan dan berbagai pertemuan tingkat menteri.
KTT BRICS ke-18 di New Delhi mengangkat empat pilar utama berupa ketahanan, inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan dalam menghadapi berbagai tantangan global.
Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah pemimpin negara anggota, termasuk Presiden China Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Indonesia Prabowo Subianto, dan Perdana Menteri India Narendra Modi.
BRICS saat ini terdiri atas 11 negara anggota dan juga memiliki sejumlah negara mitra dalam kerangka kerja sama kelompok tersebut.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




