
Pantau - Lebih dari 7.250 orang berhasil diselamatkan dalam kondisi hidup dari reruntuhan di Iran selama perang 40 hari yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran, menurut Kepala Perhimpunan Bulan Sabit Merah Iran (IRCS) Pirhossein Kolivand.
Kolivand menyampaikan data tersebut dalam sebuah upacara di Teheran, Kamis (1/10/2026), saat IRCS menerima kendaraan dan peralatan baru untuk operasi penyelamatan dan bantuan, sebagaimana dilaporkan Kantor Berita Buruh Iran (ILNA).
Kolivand mengaitkan keberhasilan penyelamatan ribuan orang tersebut dengan penggunaan peralatan modern selama operasi pencarian dan pertolongan.
Ia juga menyebut perkembangan armada dan peralatan IRCS dalam beberapa tahun terakhir sebagai sesuatu yang "belum pernah terjadi sebelumnya".
IRCS saat ini memiliki lebih dari enam juta anggota sukarelawan yang tersebar di seluruh Iran, menurut Kolivand.
Serangan Dimulai pada Akhir Februari
Menurut laporan tersebut, Israel dan AS melancarkan serangan udara gabungan terhadap Teheran dan sejumlah kota lain di Iran pada 28 Februari 2026.
Iran kemudian membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta pangkalan dan aset AS di kawasan tersebut.
Iran juga memperketat kendalinya atas Selat Hormuz selama konflik berlangsung.
Gencatan senjata sementara tercapai pada April, meski laporan tersebut menyebut AS dan Iran masih beberapa kali saling melancarkan serangan setelahnya.
Iran Klaim Lebih dari 5.000 Orang Tewas
Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi dalam konferensi pers di New York pada akhir September menyatakan lebih dari 5.000 orang tewas akibat konflik tersebut.
Menurut Araghchi, korban tewas itu termasuk ratusan perempuan dan anak-anak.
Araghchi menyebut serangan AS dan Israel terhadap Iran sebagai "agresi".
- Penulis :
- Aditya Yohan




