
Pantau - Pemerintah Filipina mendorong percepatan pembangunan jaringan listrik lintas negara yang menghubungkan Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Filipina melalui kabel bawah laut bertegangan tinggi untuk memperkuat ketahanan energi kawasan ASEAN di tengah gangguan pasokan minyak akibat konflik Timur Tengah.
Menteri Energi Filipina Sharon Garin mengumumkan inisiatif tersebut dalam Pertemuan ke-44 Menteri Energi ASEAN di Manila, Rabu (7/10/2026).
Berdasarkan laporan Badan Informasi Filipina (PIA), proyek tersebut dirancang untuk memungkinkan perdagangan listrik lintas batas antara keempat negara.
Garin menyebut proyek interkoneksi tersebut sebagai pintu gerbang utama Filipina menuju Jaringan Listrik ASEAN atau ASEAN Power Grid.
Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya memperkuat konektivitas kelistrikan regional sekaligus mengurangi kerentanan negara-negara ASEAN terhadap gangguan pasokan energi.
Indonesia Masuk Rencana Interkoneksi Listrik Empat Negara ASEAN
Proyek yang didorong Filipina melibatkan empat negara, yakni Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Filipina.
Jaringan tersebut direncanakan menggunakan kabel bawah laut bertegangan tinggi untuk menghubungkan sistem kelistrikan antarnegara.
Melalui infrastruktur tersebut, negara-negara yang terhubung dapat melakukan perdagangan listrik lintas batas.
Garin menilai interkoneksi kelistrikan akan membuka peluang pemanfaatan sumber energi dari satu negara untuk memenuhi kebutuhan negara lain.
"Setiap interkoneksi semakin mendekatkan hari di mana tenaga air dari pegunungan negara tetangga dapat menerangi sebuah rumah sakit di seberang perbatasan," kata Garin.
Menurutnya, pengembangan jaringan listrik bersama dapat memperluas akses terhadap pasokan energi di kawasan Asia Tenggara.
Proyek tersebut juga dirancang untuk melengkapi pengaturan perdagangan listrik yang telah berjalan antara Laos, Thailand, Malaysia, dan Singapura.
Singapura Minta ASEAN Atur Perlindungan Kabel Bawah Laut
Menteri Energi Singapura Tan See Leng menyoroti pentingnya kesepakatan bersama dalam pembangunan infrastruktur kelistrikan lintas negara.
Menurutnya, proyek interkoneksi melalui kabel bawah laut membutuhkan aturan yang jelas untuk memastikan pengelolaan infrastruktur berjalan dengan baik.
Peraturan tersebut mencakup proses pemasangan, pemeliharaan, dan perlindungan kabel bawah laut.
Ketentuan bersama diperlukan karena jaringan listrik yang dibangun akan melintasi wilayah beberapa negara ASEAN.
Pertemuan Menteri Energi ASEAN di Manila dihadiri perwakilan dari 11 negara anggota.
Para menteri membahas sejumlah agenda, termasuk konektivitas listrik regional, keamanan energi, dan pembiayaan proyek infrastruktur.
Pembahasan tersebut berlangsung ketika negara-negara Asia Tenggara menghadapi tekanan terhadap pasokan energi akibat perkembangan konflik internasional.
Konflik Iran dan Penutupan Selat Hormuz Tekan Pasokan Energi
Dorongan Filipina untuk mempercepat interkoneksi listrik muncul di tengah gangguan pasokan energi akibat perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Konflik yang berlangsung sejak akhir Februari 2026 tersebut berdampak pada penutupan Selat Hormuz, salah satu jalur penting perdagangan minyak dunia.
Filipina menjadi negara pertama yang mendeklarasikan kondisi kedaruratan energi nasional setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. mengumumkan kondisi kedaruratan energi nasional pada 24 Maret 2026.
Gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah menjadi perhatian karena kawasan ASEAN masih memiliki ketergantungan besar terhadap impor energi.
Menurut Pusat ASEAN untuk Energi, lebih dari 50 persen impor minyak mentah negara-negara anggota ASEAN berasal dari Timur Tengah.
Lembaga tersebut memperkirakan gangguan pasokan berpotensi mengancam volume minyak yang setara dengan hampir 28 persen konsumsi regional.
Kondisi tersebut menjadi salah satu latar belakang pembahasan penguatan ketahanan energi dalam pertemuan para menteri energi ASEAN.
ASEAN Power Grid Didorong Perkuat Ketahanan Energi Kawasan
Pengembangan ASEAN Power Grid menjadi salah satu agenda utama kerja sama energi negara-negara Asia Tenggara.
Proyek interkoneksi yang melibatkan Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Filipina diharapkan dapat memperluas perdagangan listrik lintas batas.
Kehadiran jaringan tersebut juga akan melengkapi sistem perdagangan listrik yang telah menghubungkan Laos, Thailand, Malaysia, dan Singapura.
Namun, pembangunan infrastruktur kabel bawah laut membutuhkan koordinasi antarnegara, termasuk mengenai pembiayaan, pemasangan, dan perlindungan jaringan.
Pertemuan di Manila menjadi forum bagi negara-negara ASEAN untuk membahas berbagai kebutuhan tersebut.
Filipina mendorong percepatan proyek interkoneksi sebagai bagian dari penguatan keamanan energi kawasan di tengah ketidakpastian pasokan minyak global.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




