
Pantau - Pemerintah Iran menegaskan tidak akan menghentikan pengembangan teknologi nuklir dalam negeri meskipun menghadapi tekanan, sanksi, dan ancaman dari pihak asing yang disebutnya sebagai "para penindas".
Presiden Organisasi Energi Atom Iran (AEOI) Mohammad Eslami menyampaikan sikap tersebut dalam konferensi internasional bertajuk "Ekosida, Kejahatan Perang Senyap" yang berlangsung di Teheran, Minggu (11/10/2026).
Eslami menegaskan bahwa Iran memiliki hak untuk mempertahankan pencapaian ilmiah dan mengembangkan teknologi nuklir tanpa harus tunduk pada tuntutan negara lain.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah ketegangan mengenai program nuklir Iran serta belum tercapainya kesepakatan akhir dalam perundingan dengan Amerika Serikat (AS).
Iran Tegaskan Tidak Akan Menyerah pada Tekanan Asing
Menurut pernyataan yang dipublikasikan melalui situs resmi AEOI, Eslami menilai bangsa Iran tidak seharusnya kehilangan hak atas kemajuan ilmu pengetahuan hanya karena menolak kebijakan yang dipaksakan pihak lain.
Ia menegaskan bahwa berbagai tekanan internasional tidak menghentikan pengembangan teknologi yang telah dilakukan Iran selama bertahun-tahun.
Eslami menyebut Iran tetap melanjutkan kemajuan ilmiahnya meskipun menghadapi sanksi ekonomi, aksi sabotase, tekanan politik, dan konflik bersenjata.
Ia juga menyoroti ancaman yang menurutnya berulang kali disampaikan pejabat Amerika Serikat terkait kemungkinan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran.
Ancaman tersebut mencakup penggunaan senjata taktis hingga senjata atom, sebagaimana disampaikan Eslami dalam konferensi tersebut.
Eslami menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah terhadap tekanan yang bertujuan membatasi pengembangan teknologi nuklir nasionalnya.
Iran Kecam Serangan AS dan Israel terhadap Fasilitas Nuklir
Dalam kesempatan yang sama, Eslami mengecam serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran.
Ia menyoroti bahwa fasilitas yang menjadi sasaran serangan tersebut berada di bawah pengawasan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).
Eslami juga menyampaikan kekecewaannya terhadap IAEA yang menurutnya gagal mengutuk serangan terhadap fasilitas nuklir Iran.
Sementara itu, juru bicara AEOI Behrouz Kamalvandi menegaskan bahwa pemerintah Iran akan terus memperjuangkan kepentingan nasionalnya.
Pernyataan Kamalvandi disampaikan di sela-sela konferensi yang sama dan dilaporkan oleh kantor berita resmi Iran, IRNA.
Kamalvandi menyatakan bahwa program nuklir Iran sepenuhnya ditujukan untuk kepentingan damai dan dijalankan secara transparan.
Ia juga menegaskan bahwa kegiatan nuklir Iran berada dalam pengawasan berkelanjutan IAEA.
Pernyataan tersebut menjadi bagian dari sikap resmi Iran dalam mempertahankan pengembangan teknologi nuklir di tengah tekanan internasional.
Konflik Iran dengan AS dan Israel Memanas Sejak Februari 2026
Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel meningkat setelah serangan gabungan terhadap sejumlah wilayah Iran pada 28 Februari 2026.
Serangan tersebut menargetkan Teheran serta beberapa kota lainnya di Iran.
Iran kemudian merespons dengan melancarkan gelombang serangan rudal dan pesawat nirawak yang menyasar Israel serta pangkalan dan aset Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Selain melakukan serangan balasan, Iran juga memperketat kendalinya atas Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur strategis perdagangan energi dunia.
Konflik bersenjata tersebut berlangsung hingga pihak-pihak yang bertikai mencapai kesepakatan gencatan senjata pada 8 April 2026.
Kesepakatan itu menjadi langkah awal untuk meredakan konflik setelah serangkaian serangan militer di kawasan.
Perundingan Nuklir Iran dan AS Belum Capai Kesepakatan Akhir
Setelah gencatan senjata, Iran dan Amerika Serikat menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada 18 Juni 2026 mengenai penghentian perang di seluruh garis konflik.
Berdasarkan kesepakatan tersebut, kedua negara dijadwalkan mengadakan perundingan dalam waktu 60 hari untuk membahas penyelesaian persoalan nuklir dan pencabutan sanksi terhadap Iran.
Batas waktu perundingan tersebut berakhir pada 17 Agustus 2026.
Namun, kedua pihak belum berhasil mencapai kemajuan yang memadai untuk menghasilkan kesepakatan akhir.
Ketegangan yang terus meningkat menjadi salah satu hambatan dalam proses perundingan mengenai program nuklir dan sanksi terhadap Iran.
Di tengah belum tercapainya kesepakatan tersebut, pemerintah Iran kembali menegaskan bahwa pengembangan teknologi nuklir merupakan hak nasional yang akan terus dipertahankan.
- Penulis :
- Aditya Yohan




