
Pantau - Pengadilan Prancis mulai menjatuhkan hukuman terhadap sejumlah pelaku kekerasan dalam demonstrasi besar yang berujung kerusuhan di Paris pada Sabtu (17/10/2026), termasuk seorang koki berusia 21 tahun yang divonis delapan bulan penjara.
Vonis tersebut dijatuhkan melalui prosedur peradilan cepat setelah aparat keamanan menangkap sejumlah orang yang diduga terlibat dalam aksi kekerasan selama demonstrasi.
Berdasarkan laporan BFMTV pada Senin (19/10/2026), dua terdakwa yang telah menerima putusan merupakan seorang koki berusia 21 tahun dan petugas keamanan berusia 23 tahun.
Keduanya sebelumnya tidak memiliki catatan kriminal.
Putusan pengadilan tersebut muncul setelah demonstrasi nasional yang diikuti sekitar 550.000 orang, menurut data Kementerian Dalam Negeri Prancis, berubah menjadi kerusuhan dan penjarahan di sejumlah wilayah.
Koki 21 Tahun Divonis Delapan Bulan Penjara
Salah satu terdakwa yang menerima hukuman adalah seorang koki berusia 21 tahun yang pernah bekerja sebagai petugas pemadam kebakaran.
Pengadilan menjatuhkan hukuman delapan bulan penjara dengan ketentuan dua bulan harus dijalani secara langsung di balik jeruji besi.
Pria tersebut ditangkap sebelum demonstrasi besar pada Sabtu (17/10/2026) dimulai.
Saat penangkapan, petugas menemukan delapan botol minuman beralkohol di dalam tas yang dibawanya.
Polisi juga menemukan rekaman video pada telepon genggam terdakwa yang memperlihatkan dirinya melemparkan bom molotov pada hari sebelumnya.
Temuan tersebut menjadi bagian dari perkara yang diproses melalui mekanisme peradilan cepat.
Petugas Keamanan Dihukum Satu Tahun Penjara dengan Masa Percobaan
Pengadilan juga menjatuhkan hukuman kepada seorang pria berusia 23 tahun yang bekerja sebagai petugas keamanan.
Terdakwa menerima vonis satu tahun penjara dengan masa percobaan.
Selain hukuman tersebut, pengadilan melarangnya memiliki senjata dan mengikuti demonstrasi selama satu tahun.
Pria itu ditangkap setelah menggunakan bahan piroteknik ketika berhadapan dengan seorang anggota polisi di kawasan Champs-Élysées, Paris.
Menurut BFMTV, baik terdakwa berusia 21 tahun maupun pria berusia 23 tahun tersebut tidak memiliki riwayat kriminal sebelumnya.
Kedua putusan itu menjadi bagian dari tahap awal penanganan hukum terhadap pelaku kekerasan dalam kerusuhan akhir pekan di Prancis.
Demonstrasi Bermula dari Protes Pelajar pada September
Gelombang demonstrasi di Prancis bermula pada pertengahan September 2026 ketika sejumlah siswa sekolah menengah atas di pinggiran Paris turun ke jalan.
Para pelajar menuntut perbaikan sistem pendidikan di sekolah mereka.
Aksi tersebut kemudian mendapat dukungan dari kelompok masyarakat yang menyuarakan ketidakpuasan terhadap kenaikan harga dan biaya hidup.
Persoalan harga bahan bakar dan pendanaan pendidikan turut menjadi bagian dari tuntutan yang disampaikan pengunjuk rasa.
Seiring bertambahnya peserta, demonstrasi meluas ke berbagai wilayah di Prancis.
Puncak mobilisasi terjadi pada Sabtu (17/10/2026) ketika demonstrasi berskala nasional berlangsung di sejumlah kota.
Sebanyak 550 Ribu Orang Ikuti Demonstrasi Nasional
Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat sekitar 550.000 orang mengikuti demonstrasi nasional pada Sabtu (17/10/2026).
Aksi tersebut menjadi demonstrasi terbesar dalam gelombang protes yang berlangsung sejak pertengahan September.
Namun, sejumlah demonstrasi kemudian berubah menjadi kerusuhan yang disertai bentrokan antara aparat keamanan dan pengunjuk rasa.
Tindakan perusakan dan vandalisme juga terjadi di sejumlah lokasi.
Di Paris, kerusuhan menyebabkan kerusakan fasilitas dan memicu gangguan keamanan di kawasan perkotaan.
Situasi serupa turut dilaporkan terjadi di Marseille.
Penjarah Rusak Toko dan Curi Barang Mewah di Paris serta Marseille
Di tengah kerusuhan, sejumlah pelaku penjarahan menyerbu pertokoan dan merusak etalase.
Barang dagangan dari berbagai toko dilaporkan dicuri, termasuk produk dari butik merek mewah.
Aksi penjarahan terutama terjadi di Paris dan Marseille ketika demonstrasi berlangsung pada akhir pekan.
Kerusakan fasilitas pertokoan menambah dampak kerusuhan yang sebelumnya dipicu oleh ketidakpuasan masyarakat terhadap kondisi ekonomi dan pendidikan.
Aparat Prancis kemudian melakukan penangkapan terhadap sejumlah orang yang terlibat dalam tindakan kekerasan.
Proses hukum terhadap para pelaku mulai berjalan melalui persidangan cepat, dengan vonis pertama diumumkan setelah kerusuhan akhir pekan tersebut.
- Penulis :
- Aditya Yohan




