
Pantau - Menteri luar negeri Jepang, Amerika Serikat (AS), Australia, dan India menyampaikan keprihatinan serius terhadap praktik pembatasan perdagangan dan kebijakan ekonomi yang dinilai mengganggu rantai pasok global, dengan sorotan mengarah kepada China.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan kelompok kerja sama empat negara atau Quad yang berlangsung di Atlanta, Amerika Serikat, Sabtu (31/10/2026).
Dalam pertemuan itu, keempat negara juga berkomitmen menyediakan bantuan teknis dan keuangan senilai lebih dari 85 juta dolar AS atau sekitar Rp1,54 triliun untuk meningkatkan akses terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI) tepercaya di kawasan Indo-Pasifik.
Pertemuan dihadiri Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong, serta Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar.
Keempat menteri mengevaluasi perkembangan berbagai inisiatif Quad di sela-sela pertemuan para menteri luar negeri negara anggota G20.
Quad Soroti Pembatasan Ekspor dan Tekanan Ekonomi
Dalam dokumen bersama yang diterbitkan seusai pertemuan, para menteri luar negeri Quad menyampaikan kekhawatiran terhadap praktik tekanan ekonomi yang dinilai mengancam stabilitas perdagangan internasional.
Praktik tersebut mencakup pembatasan ekspor secara sepihak serta kebijakan nonpasar yang berpotensi menyebabkan kelebihan kapasitas produksi.
Keempat negara juga menyoroti dampak kebijakan tersebut terhadap rantai pasok global, khususnya pada industri-industri strategis.
Meskipun dokumen bersama tidak secara langsung menyebut China, pembahasan tersebut mengarah pada kebijakan ekonomi negara tersebut.
Quad selama ini kerap dipandang sebagai kekuatan penyeimbang terhadap meningkatnya pengaruh China di kawasan Indo-Pasifik.
Namun, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa kelompok tersebut tidak dibentuk untuk menghadapi negara tertentu.
"Jika kami menyampaikan kekhawatiran dalam forum Quad, hal itu berkaitan dengan perilaku dan aktivitas tertentu. Saat ini, aktivitas atau perilaku tersebut berulang kali dilakukan oleh satu negara," kata Rubio dalam konferensi pers.
"Hal itu tentu dapat dilihat oleh semua pihak. Namun, Quad bukan aliansi yang dibentuk untuk menentang China ataupun negara mana pun," ujarnya.
Quad Siapkan Bantuan Rp1,54 Triliun untuk Pengembangan AI
Selain membahas kebijakan perdagangan, Quad menyepakati komitmen bantuan teknis dan keuangan lebih dari 85 juta dolar AS untuk memperluas akses terhadap teknologi AI tepercaya di Indo-Pasifik.
Komitmen tersebut menjadi bagian dari pengembangan kerja sama Quad yang semakin meluas dalam beberapa tahun terakhir.
Bidang kerja sama kelompok itu mencakup keamanan maritim, mineral kritis, perlindungan kesehatan, hingga pengembangan teknologi baru.
China sebelumnya mengkritik berbagai inisiatif Quad karena menilai kelompok tersebut berupaya membendung pengaruh Beijing di kawasan.
Empat Negara Bentuk Forum Bisnis Bersama
Para menteri luar negeri Quad juga sepakat membentuk forum bisnis bersama untuk memperkuat diplomasi perdagangan.
Forum tersebut dirancang mempertemukan pemimpin industri, pejabat pemerintah, dan pakar kebijakan dari Jepang, AS, Australia, serta India.
Pembentukan forum bertujuan mempererat hubungan antara sektor publik dan swasta dalam pengembangan kerja sama ekonomi.
Sebagai tindak lanjut, lembaga penjamin kredit ekspor dari negara-negara Quad dijadwalkan mengadakan pertemuan di Tokyo pada 18 November 2026.
Pertemuan tersebut akan digunakan untuk mengidentifikasi peluang memperdalam kerja sama ekonomi antarnegara anggota.
Quad Bahas Keamanan Indo-Pasifik dan Rencana KTT
Selain persoalan ekonomi, keempat menteri menyelaraskan pandangan mengenai perkembangan keamanan di kawasan Indo-Pasifik.
Menurut Kementerian Luar Negeri Jepang, pembahasan mencakup situasi di Laut China Selatan, Laut China Timur, serta perkembangan di Timur Tengah.
Dalam pertemuan tersebut, Toshimitsu Motegi menyampaikan penolakan keras terhadap upaya mengubah status quo secara sepihak melalui penggunaan kekuatan atau intimidasi.
Pertemuan di Atlanta merupakan pertemuan ketiga para menteri luar negeri Quad sepanjang 2026.
Keempat negara juga mempertimbangkan kemungkinan penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Quad di Filipina pada November.
Para pemimpin Jepang, AS, Australia, dan India dijadwalkan mengunjungi Manila pada pertengahan November untuk menghadiri sejumlah pertemuan bersama ASEAN dan negara mitranya.
KTT Quad terakhir berlangsung pada September 2024 ketika Joe Biden masih menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat.
Rencana pertemuan tingkat pemimpin di India pada tahun sebelumnya tidak terlaksana akibat memburuknya hubungan New Delhi dan Washington.
Pertemuan G20 Gagal Hasilkan Komunike Bersama
Berbeda dengan kesamaan sikap yang ditunjukkan Quad, pertemuan G20 selama dua hari memperlihatkan perbedaan pandangan di antara negara-negara anggotanya.
Kehadiran Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menjadi salah satu pemicu ketegangan setelah mendapat protes dari sejumlah pejabat Eropa.
Perbedaan sikap tersebut menyebabkan negara-negara anggota G20, termasuk China dan Rusia, gagal menyepakati komunike bersama.
Sejumlah isu yang dibahas meliputi keamanan energi, rantai pasok global, serta ketegangan geopolitik.
"Saya tidak ingin memberi kesan bahwa saat ini kita sudah hampir mencapai solusi yang dapat diterima semua pihak atas berbagai persoalan tersebut," kata Rubio yang memimpin pertemuan itu.
Sebagai pengganti komunike bersama, Rubio menerbitkan pernyataan ketua pertemuan atau chairman's statement, meskipun dokumen tersebut dinilai tidak memuat banyak substansi.
Pertemuan para menteri luar negeri tersebut merupakan bagian dari persiapan menuju KTT G20 yang dijadwalkan berlangsung di Miami, Amerika Serikat, pada Desember 2026 dengan Donald Trump sebagai tuan rumah.
- Penulis :
- Gerry Eka




