HOME  ⁄  Geopolitik

Iran Bantah Rencana Negosiasi dengan AS, Araghchi Tegaskan Tujuh Syarat Harus Dipenuhi

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Iran Bantah Rencana Negosiasi dengan AS, Araghchi Tegaskan Tujuh Syarat Harus Dipenuhi
Foto: Arsip foto - Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi.

Pantau - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Teheran tidak memiliki rencana mengadakan pembicaraan dengan pejabat Amerika Serikat (AS) dalam waktu dekat, meskipun komunikasi diplomatik melalui negara-negara mediator masih berlangsung.

Pernyataan tersebut disampaikan Araghchi pada Sabtu (31/10/2026), sekaligus membantah laporan yang menyebutkan adanya rencana pertemuan antara pejabat Iran dan Amerika Serikat.

Menurut kantor berita resmi Iran, IRNA, Araghchi mengatakan pemerintah Iran telah menelaah pesan yang dikirim Wakil Presiden AS JD Vance kepada pejabat tinggi keamanan Iran, Mohsen Rezaei.

Pesan tersebut masih dalam tahap kajian oleh pihak-pihak berwenang di Iran sebelum pemerintah menentukan langkah selanjutnya.

Araghchi menegaskan bahwa laporan mengenai rencana pembicaraan langsung dengan pejabat Amerika Serikat tidak benar.

Iran Tetapkan Syarat Sebelum Membuka Negosiasi

Araghchi menyatakan bahwa Iran saat ini belum melihat kebutuhan untuk melakukan pembicaraan dengan Amerika Serikat.

Menurut dia, persyaratan yang diajukan Teheran untuk membuka kembali proses negosiasi sudah disampaikan secara jelas.

Keputusan mengenai kemungkinan perundingan langsung maupun tidak langsung baru akan diambil setelah Washington menyetujui persyaratan tersebut.

Meski demikian, komunikasi diplomatik masih berlangsung melalui Qatar dan Pakistan yang bertindak sebagai mediator antara kedua negara.

Araghchi juga menilai pesan dari JD Vance dan upaya Amerika Serikat untuk membuka kembali dialog sebagai perkembangan yang positif.

Namun, perkembangan tersebut belum mengubah keputusan Iran untuk tidak menjadwalkan pembicaraan dengan pejabat AS.

Pembukaan Selat Hormuz Masih Dalam Pembahasan

Salah satu persoalan utama dalam proses diplomasi adalah rencana pembukaan kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur strategis pelayaran internasional.

Iran sebelumnya mengajukan usulan pembukaan kembali selat tersebut dalam waktu tujuh hari apabila tujuh persyaratan yang diajukannya dipenuhi.

Araghchi mengungkapkan bahwa Qatar meminta agar jangka waktu pelaksanaan usulan tersebut dipersingkat.

"Qatar meminta agar waktu yang diperlukan untuk melaksanakan usulan kami dipersingkat menjadi lima hari. Saat ini, sedang dibahas usulan untuk mempersingkat periode tersebut menjadi dua hari."

Pemerintah Iran menyatakan pembukaan kembali Selat Hormuz bergantung pada penerimaan rute transit baru yang ditetapkan bersama Oman.

Teheran juga menghendaki penutupan rute-rute alternatif lainnya sebagai bagian dari pengaturan pelayaran di kawasan tersebut.

Iran Tuntut Pencabutan Pembatasan Penjualan Minyak

Selain persoalan keamanan pelayaran, Iran mengajukan tuntutan terkait sanksi ekonomi yang diberlakukan Amerika Serikat.

Araghchi menyatakan bahwa Washington harus memulihkan pengecualian sanksi yang berkaitan dengan penjualan minyak Iran.

Teheran juga menuntut pencairan seluruh aset Iran yang dibekukan, termasuk aset yang berada di Qatar.

Persoalan sanksi dan aset tersebut menjadi bagian dari pembahasan diplomatik yang masih berlangsung melalui negara-negara mediator.

Araghchi turut menegaskan bahwa Iran tidak mengesampingkan kemungkinan terjadinya perang dan siap menghadapi berbagai skenario yang mungkin muncul.

Trump Bantah Laporan Pesan JD Vance untuk Iran

Sebelumnya, The Wall Street Journal melaporkan bahwa Wakil Presiden AS JD Vance telah mengirim pesan kepada Mohsen Rezaei atas arahan Presiden Donald Trump.

Laporan yang mengutip pejabat Amerika Serikat tersebut menyebut pesan itu bertujuan menghidupkan kembali pembicaraan damai antara Washington dan Teheran.

Namun, Trump membantah laporan tersebut dan menyatakan bahwa keterlibatan Vance terbatas pada upaya membantu penyediaan pasokan medis yang dibutuhkan Iran.

Sementara itu, Qatar dan Pakistan terus menjalankan upaya mediasi untuk membuka kembali jalur negosiasi antara kedua negara.

Sejumlah laporan menyebut adanya kemajuan dalam pembicaraan tidak langsung yang berlangsung di Doha.

Proses diplomasi tersebut mencakup pembahasan mengenai program nuklir Iran, sanksi ekonomi, serta keamanan pelayaran di Selat Hormuz.

Ketegangan AS-Iran Berlanjut Setelah Gencatan Senjata

Hubungan Amerika Serikat dan Iran mengalami ketegangan setelah AS bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Teheran kemudian membalas serangan tersebut dengan menargetkan aset-aset Israel dan Amerika Serikat di kawasan.

Konfrontasi tersebut berlangsung hingga tercapainya kesepakatan gencatan senjata pada April 2026.

Pada Juni, Washington dan Teheran menandatangani kerangka kesepakatan mengenai kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

Namun, pelaksanaan kesepakatan tersebut terhambat akibat perbedaan pandangan mengenai pengaturan keamanan di jalur pelayaran strategis itu.

Hingga kini, proses diplomasi masih bergantung pada perkembangan mediasi dan kesediaan kedua negara mencapai kesepahaman mengenai persyaratan yang diajukan.

Penulis :
Gerry Eka
FLOII 2026