HOME  ⁄  Geopolitik

Iran Revisi Proposal Damai Jadi Dua Hari, Desak AS Akhiri Blokade Laut untuk Buka Perundingan

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Iran Revisi Proposal Damai Jadi Dua Hari, Desak AS Akhiri Blokade Laut untuk Buka Perundingan
Foto: Arsip foto - Sebuah spanduk raksasa yang menampilkan gambar bendera Iran serta slogan berbunyi "Iran adalah tanah air kami, bendera ini adalah kain kafan kami" di Alun-alun Enghelab, Teheran, Iran, Kamis 15/1/2026 (sumber: Anadolu-Fatemeh Bahrami)

Pantau - Pemerintah Iran menyatakan masih melanjutkan komunikasi diplomatik dengan Amerika Serikat (AS) melalui sejumlah mediator setelah menyederhanakan proposal perundingan dari tujuh tahap menjadi rencana yang dapat dilaksanakan dalam waktu dua hari.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, dalam konferensi pers mingguan pada Senin (2/11/2026), mengatakan pertukaran pesan antara Teheran dan Washington masih berlangsung melalui pihak perantara untuk membuka kembali jalur perundingan kedua negara.

Iran menegaskan bahwa proposal diplomatik yang telah direvisi tersebut tetap menjadi kerangka utama dalam upaya penyelesaian ketegangan dengan Amerika Serikat.

Baqaei menyebut penyederhanaan proposal itu sebagai “demonstrasi itikad baik dan pendekatan konstruktif Iran” dalam mencari penyelesaian melalui jalur diplomasi.

Namun, pemerintah Iran menegaskan bahwa pelaksanaan rencana tersebut bergantung pada kesediaan Washington memenuhi tuntutan Teheran, termasuk mengakhiri blokade laut terhadap Iran.

“Bola kini berada di tangan AS,” katanya.

Iran Sederhanakan Proposal Diplomatik dari Tujuh Tahap Menjadi Dua Hari

Baqaei menjelaskan bahwa proposal diplomatik Iran sebelumnya telah dibahas secara mendalam ketika delegasi negara tersebut melakukan kunjungan ke New York.

Pembahasan itu dilakukan untuk mencari kemungkinan penyelesaian ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat melalui mekanisme perundingan tidak langsung.

Setelah pertemuan di New York, pemerintah Iran menerima sejumlah pandangan dan tanggapan dari Washington yang disampaikan melalui mediator.

Berdasarkan perkembangan komunikasi tersebut, Teheran kemudian menyederhanakan proposal awal yang terdiri atas tujuh tahap menjadi rencana yang dapat dilaksanakan sepenuhnya dalam dua hari.

Pemerintah Iran menilai perubahan tersebut dapat mempercepat proses diplomatik sekaligus membuka peluang dimulainya kembali perundingan dengan Amerika Serikat.

Baqaei menegaskan bahwa proposal yang telah disampaikan sebelumnya masih menjadi dasar utama komunikasi kedua negara, termasuk dalam menanggapi perkembangan diplomatik terbaru.

Iran Minta AS Akhiri Blokade Laut dan Pulihkan Keamanan Selat Hormuz

Selain membahas proposal perundingan, Baqaei menegaskan bahwa penyelesaian diplomatik tidak dapat dicapai apabila Amerika Serikat tetap mempertahankan blokade laut terhadap Iran.

Menurut pemerintah Iran, penghentian blokade tersebut menjadi salah satu persyaratan penting untuk membuka jalan menuju kesepakatan antara Teheran dan Washington.

Iran juga mengaitkan kemungkinan pemulihan keamanan Selat Hormuz dengan kesediaan Amerika Serikat memenuhi tuntutan yang telah diajukan.

Teheran menyatakan pembukaan kembali Selat Hormuz dan jaminan keamanan jalur pelayaran tersebut tidak dapat diwujudkan selama blokade laut AS masih berlangsung.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perairan strategis bagi distribusi energi global yang menghubungkan kawasan Teluk Persia dengan jalur perdagangan internasional.

Ketegangan di kawasan tersebut menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi kelancaran pengiriman energi ke berbagai negara.

Pemerintah Iran tetap membuka peluang penyelesaian melalui diplomasi, tetapi menegaskan bahwa kemajuan perundingan membutuhkan langkah konkret dari Washington.

Qatar Jadi Mediator Komunikasi Iran dan Amerika Serikat

Dalam perkembangan diplomatik lainnya, Baqaei mengonfirmasi kunjungan Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, ke Doha, Qatar.

Kunjungan tersebut dilakukan untuk mendukung kelanjutan pertukaran pesan antara Teheran dan Washington melalui mediasi pemerintah Qatar.

Qatar menjadi salah satu negara perantara yang memfasilitasi komunikasi diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat di tengah ketegangan kedua negara.

Baqaei juga menanggapi surat terbaru yang dikirimkan pemerintah Amerika Serikat kepada Iran.

Menurutnya, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran akan menentukan langkah dalam menanggapi surat tersebut dengan mempertimbangkan kepentingan nasional.

Namun, Baqaei menegaskan bahwa surat terbaru Washington tidak dapat dipandang sebagai awal dari proses diplomatik baru.

Iran tetap menganggap komunikasi tersebut sebagai kelanjutan dari perundingan tidak langsung yang telah berlangsung sebelumnya.

Baqaei turut menjelaskan bahwa Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, memimpin perundingan terbaru terkait upaya penyelesaian ketegangan dengan Amerika Serikat.

Sementara itu, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran tetap bertanggung jawab mengawasi keseluruhan proses diplomatik yang dijalankan pemerintah.

Iran Waspadai Kegagalan Perundingan Sebelumnya di Islamabad

Meskipun komunikasi diplomatik masih berlangsung, pemerintah Iran menyatakan tetap berhati-hati dalam menilai kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan Amerika Serikat.

Baqaei menjelaskan bahwa sikap tersebut dipengaruhi pengalaman kegagalan proses perundingan sebelumnya yang diselenggarakan di Islamabad.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu pertimbangan Teheran dalam menentukan langkah diplomatik berikutnya.

Selain itu, Iran turut mencermati pernyataan terbaru Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyebut proses perundingan sebagai pemborosan waktu.

Pernyataan Trump menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pemerintah Iran dalam menilai keseriusan Washington untuk melanjutkan upaya penyelesaian melalui jalur diplomasi.

Di tengah perbedaan sikap tersebut, Iran tetap mempertahankan proposal yang telah direvisi sebagai landasan utama perundingan tidak langsung.

Komunikasi melalui sejumlah mediator, termasuk Qatar, masih menjadi jalur yang digunakan kedua negara untuk menyampaikan pandangan dan tanggapan masing-masing.

Kelanjutan proses diplomatik tersebut kini bergantung pada respons Amerika Serikat terhadap proposal Iran, termasuk tuntutan penghentian blokade laut dan langkah pemulihan keamanan di Selat Hormuz.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026