Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Lifestyle

Apa Itu Humble Bragging? Ini Ciri-Ciri hingga Cara Menghindarinya

Oleh Nur Nasya Dalila
SHARE   :

Apa Itu Humble Bragging? Ini Ciri-Ciri hingga Cara Menghindarinya
Foto: ilustrasi humble bragging. (Freepik)

Pantau - Dalam era media sosial dan interaksi digital, banyak orang ingin berbagi pencapaian mereka tanpa terlihat sombong. Salah satu cara yang sering digunakan adalah humble bragging, yaitu sikap merendah namun sebenarnya bertujuan untuk memamerkan kesuksesan. Fenomena ini sering ditemui dalam percakapan sehari-hari maupun unggahan di media sosial. Meskipun terlihat sebagai cara yang lebih halus untuk menyampaikan prestasi, humble bragging justru sering kali dianggap tidak tulus dan dapat menimbulkan kesan negatif. 

Artikel ini akan membahas pengertian, contoh, alasan di balik perilaku ini, serta dampaknya terhadap orang lain.

Apa itu Humble Bragging

Humble bragging adalah perilaku seseorang yang tampak merendah, tetapi sebenarnya bertujuan untuk memamerkan pencapaian atau keunggulan diri. Istilah ini berasal dari gabungan kata "humble" (rendah hati) dan "bragging" (membanggakan diri). Fenomena ini sering muncul dalam percakapan sehari-hari dan media sosial, di mana seseorang berusaha terlihat tidak sombong sambil tetap menunjukkan prestasinya.

Hand drawn people with hot drinks
ilustrasi mengobrol. (Freepik)

Baca juga: Apa Itu Backhanded Compliment? Kenali Contoh dan Cara Menghadapinya

Ciri-Ciri Humble Bragging

Menyamarkan Prestasi

Humble bragging biasanya diawali dengan keluhan atau pernyataan merendah, namun diakhiri dengan penonjolan pencapaian. Contoh: “Hari ini capek banget! Cuma tidur empat jam karena harus menyelesaikan proposal proyek besar di kantor. Nggak terlalu istimewa sih, tapi bos sangat menyukainya sampai mempertimbangkan untuk mempromosikan saya. Ternyata kerja keras memang membuahkan hasil, meskipun harus mengorbankan waktu tidur!”

Mengeluh Sambil Pamer Keberhasilan

Banyak orang menggunakan humble bragging dengan cara menggabungkan keluhan dengan pencapaian. Contoh: “Jadwal super padat, sampai nggak sempat istirahat. Jadi orang yang selalu dicari di bidang ini memang melelahkan. Tapi ya, sukses memang ada harganya!”

Menggunakan Kesopanan untuk Meninggikan Diri

Beberapa orang menampilkan pencapaiannya dengan pura-pura rendah hati, padahal inti pernyataan tetap tentang kesuksesan mereka. Contoh: “Dapat promosi lagi. Nggak terlalu penting sih, masih banyak orang yang lebih berbakat. Saya hanya berusaha semaksimal mungkin dan kebetulan kesempatan selalu datang. Bersyukur saja!”

Baca juga: Apa Itu Toxic Productivity? Ini Ciri-Ciri hingga Cara Mengatasinya

Alasan Orang Melakukan Humble Bragging

Meningkatkan Daya Tarik

Sebagian orang berpikir bahwa humble bragging dapat membuat mereka terlihat lebih simpatik karena tidak terkesan sombong.

Mencari Pengakuan

Pola ini digunakan untuk mendapatkan validasi atau pujian tanpa harus tampak secara langsung membanggakan diri.

Menghindari Kritik

Dengan merendah, seseorang berharap bisa menghindari kecaman yang mungkin muncul jika mereka secara terbuka menyombongkan diri.

Dampak Humble Bragging bagi Orang Lain

Alih-alih membuat seseorang terlihat rendah hati, humble bragging sering kali justru dianggap tidak tulus atau menyebalkan. Respons negatif ini bisa merusak kesan baik yang ingin dibangun oleh pelaku.

Cara Menghindari Humble Bragging

  • Bersikap Jujur: Sampaikan pencapaian tanpa dibuat-buat atau terkesan merendah secara berlebihan.
  • Transparan: Ceritakan perjalanan menuju sukses dengan cara yang menginspirasi, bukan membanggakan diri.
  • Berempati: Perhatikan situasi dan perasaan orang lain sebelum membicarakan keberhasilan pribadi.
  • Menghargai Prestasi Orang Lain: Hindari membandingkan pencapaian dengan orang lain atau meremehkan keberhasilan mereka.

 

Baca juga: Apa Itu Monday Blues? Kenali Penyebab hingga Cara Mengatasinya

Kesimpulan

Humble bragging adalah fenomena yang sering ditemui dalam interaksi sosial, terutama di era digital. Meskipun bertujuan untuk terlihat rendah hati, efeknya bisa berlawanan dan membuat seseorang terkesan tidak tulus. Dengan komunikasi yang jujur dan empati terhadap orang lain, interaksi sosial bisa menjadi lebih positif dan bermakna.

Penulis :
Nur Nasya Dalila