
Pantau - Sejumlah ahli menyebut bahwa pasta yang telah dimasak, disimpan semalaman, lalu dipanaskan kembali dapat memberikan dampak positif terhadap kadar gula darah dibandingkan pasta yang baru dimasak.
Pati Resisten dan Pengaruhnya terhadap Gula Darah
Dalam laporan New York Post yang terbit Rabu, 14 Januari 2026, dijelaskan bahwa proses pendinginan dan pemanasan ulang pasta dapat mengubah sebagian pati menjadi pati resisten.
"Ketika pasta dimasak, didinginkan, lalu dipanaskan kembali, sebagian pati yang mudah dicerna berubah menjadi pati resisten", ungkap para ahli dalam artikel tersebut.
Ashley Kitchens, ahli gizi dari North Carolina, menjelaskan bahwa pati resisten lebih sulit dicerna tubuh sehingga gula yang masuk ke aliran darah menjadi lebih sedikit.
Ia menambahkan bahwa pati jenis ini juga berfungsi seperti serat yang menjadi makanan bagi bakteri baik di usus karena tidak langsung dicerna oleh sistem pencernaan.
Proses terbentuknya pati resisten ini disebut dengan retrogradasi, yaitu perubahan struktur pati yang terjadi setelah proses pendinginan sekitar 24 jam.
Saat pasta dimasak, struktur patinya mengalami gelatinisasi sehingga lebih mudah dicerna.
Namun, setelah didinginkan, sebagian dari struktur tersebut menjadi tidak dapat sepenuhnya dipecah oleh tubuh.
Ahli gizi dari The Ohio State University Wexner Medical Center menyatakan bahwa pasta yang telah melalui proses ini cenderung menghasilkan lebih sedikit kalori dan menyebabkan kenaikan gula darah yang lebih rendah.
Penelitian dari Universitas Surrey, Inggris, juga menunjukkan bahwa konsumsi pasta yang telah dimasak, didinginkan, dan dipanaskan kembali dapat menurunkan kadar gula darah dan respons insulin, terutama jika pasta dimasak al dente.
Tidak Berlaku Mutlak untuk Semua Orang
Meskipun demikian, para ahli mengingatkan bahwa efek ini tidak bersifat mutlak dan bisa berbeda tergantung kondisi masing-masing individu.
"Ini dapat sedikit mengurangi atau menggeser peningkatan glukosa, tetapi tidak membuat pasta ‘bebas’ dari sudut pandang gula darah", ujar Lauri Wright, Associate Professor dari University of South Florida College of Public Health.
Wright menjelaskan bahwa bagi penderita diabetes, pati resisten memang bisa membantu mengurangi lonjakan gula darah, namun tetap berisiko memengaruhi kecepatan glukosa masuk ke dalam darah dan cara tubuh merespons insulin.
Ia juga mengingatkan bahwa tidak semua pati dalam pasta menjadi resisten sepenuhnya.
"Hanya sebagian dari pati yang menjadi resisten", ia menegaskan.
"Hanya jika Anda mengonsumsi pasta dalam porsi besar, trik ini mungkin tidak terlalu bermanfaat", tambahnya.
Secara umum, para ahli sepakat bahwa meski memanaskan ulang pasta dapat memberikan sedikit keuntungan metabolik, hal yang lebih penting adalah menjaga pola makan seimbang, asupan serat cukup, dan pengendalian porsi makan.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







