
Pantau - Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 kembali diselenggarakan di Indonesia dengan ketentuan bahwa peserta hanya diperbolehkan mengirimkan karya berupa buku yang terbit pertama kali pada tahun 2025.
Ketentuan tersebut ditegaskan Ketua Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia, Pratiwi Juliani, dalam konferensi pers pelaksanaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 yang digelar di Jakarta pada Kamis, 5 Februari 2026.
Pratiwi menegaskan aturan itu tetap berlaku meskipun penyelenggaraan ajang sastra tersebut dilakukan pada 2026.
"Walaupun Kusala Sastra Khatulistiwa dilaksanakan pada 2026, buku yang dapat dikirimkan adalah yang terbit pertama kali pada 2025," ungkap Pratiwi Juliani.
Sastrawan sekaligus kurator Kusala Sastra Khatulistiwa, Hasan Aspahani, menyampaikan ajang ini merupakan bentuk penghargaan terhadap karya sastra terbaik sepanjang tahun.
"Ajang ini kami rancang sebagai penghargaan bagi karya sastra terbaik sepanjang tahun sekaligus ruang pertemuan antara imajinasi sastra dan realitas kehidupan," ujar Hasan Aspahani.
Kusala Sastra Khatulistiwa menjadi wadah bagi sastrawan Indonesia untuk menyalurkan kreativitas serta memperluas kemungkinan dialog antara sastra dan kehidupan sosial.
Program yang didukung Kementerian Kebudayaan melalui Dana Indonesiana ini terbuka bagi penulis Warga Negara Indonesia dengan karya penulis tunggal yang tidak melanggar hak cipta.
Karya yang dapat diajukan berupa buku cetak berbahasa Indonesia yang diterbitkan pertama kali pada 2025 dengan kategori kumpulan cerpen, novel, dan kumpulan puisi.
Penerbit maupun penulis diperbolehkan mengirimkan karya secara langsung dengan ketentuan setiap judul dikirim minimal dua eksemplar.
Informasi lengkap mengenai syarat dan ketentuan lomba dapat diakses melalui situs Kusala.id dengan batas akhir pengiriman karya pada 28 Februari 2026.
- Penulis :
- Aditya Yohan







