Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Lifestyle

5 Fakta yang Orangtua Wajib Tahu Sebelum Mengajak Anak Bermain Trampolin

Oleh Rifeni
SHARE   :

5 Fakta yang Orangtua Wajib Tahu Sebelum Mengajak Anak Bermain Trampolin

Pantau.com - Permainan melompat dengan alas yang lentur atau trampolin memang belakangan semakin hits di Indonesia. Faktanya, permainan ini bukan hanya menyenangkan tapi juga menyehatkan.

Permainan yang biasa dimainkan orang dewasa ini, boleh juga loh dimainkan oleh anak-anak. Tapi, para orangtua perlu mengetahui beberapa fakta seputar permainan trampolin untuk anak, berdasarkan penjelasan  Advance General Manager Rockstar Gym Ivander Elffindy di Rockstar Gym, Kota Kasablanka, Tebet, Jakarta Selatan, Senin, 25 Februari 2019.

1. Termasuk olahraga gymnastic

Gymnastic merupakan kegiatan senam artistik yang melatih kelenturan, kelincahan, dan kecepatan tubuh. Sehingga, saat si anak bermain trampolin tubuhnya akan cenderung mudah bergerak cepat. Menurut Ivander juga sebaiknya trampolin tidak dimainkan asal-asalan.

"Di salah satu tempat, yang bermain trampolin itu bermain asal-asalan. Itu menurut saya bahaya, takutnya kenapa-kenapa. Tidak diarahkan dengan benar, kakinya keseleo pas landing (mendarat), kita enggak tahu," ujar Ivander.

2. Awasi anak

Meski terbilang aman untuk anak, tapi potensi terjadi kecelakaan seperti keseleo dan bergeser sendi ini kerap terjadi karena rendahnya pengawasan orangtua. Karenanya, Ivander menyarankan untuk mencari tempat bermain trampolin yang memiliki instruktur.

Baca juga: Jangan Salah, Anak Gemuk Juga Bisa Terkena Stunting Loh!

"Kadang anak usia tiga tahun itu merasa sudah percaya diri, padahal dia punya eyebowl, dia punya kekuatan ototnya saja, itu masih belum maksimal. Nah, itu yang perlu kita latih, si motorik-motorik tersebut," paparnya.

3. Deretan manfaat

Selain rasa senang dan sehat, permainan ini juga akan mengasah mental anak menjadi berani. Hal ini lantaran tinggi lompatan di trampolin yang cukup tinggi, yakni mencapai dua hingga tiga meter.

"Kalau biasanya menginjak tanah yang datar, kali ini dia menginjak sesuatu yang lentur dan bisa menerbangkan mereka ke atas. Jadi kayak dua hal berbeda, satu di udara dan darat," tutur Ivander.

4. Tidak mengobati fobia ketinggian

Banyak yang berpendapat bahwa trampolin mampu mengobati rasa takut akan ketinggian. Tapi menurut Ivander, itu tidak benar karena tinggi yang dicapai tidaklah seberapa. Ia lebih menyarankan olahraga lain seperti walk climbing atau memanjat gunung.

Baca juga: Bolehkah Orang Dewasa Mengonsumsi Vitamin Anak?

"Mengobati (ketinggian) tidak sebenarnya. Tapi untuk anak itu tahu ketinggian, iya. Kadang kalau kita naik sepeda, kan enggak mungkin langsung roda dua, ada roda tiga dulu baru roda dua. Anggapannya, trampolin itu seperti roda tiganya. Jadi seperti semi ketinggian, tapi kan turun lagi," paparnya.

5. Batasan minimal bermain

Selama adanya pengawasan dari orangtua, orang dewasa, dan instruktur, anak di usia minimal satu tahun sudah bisa bermain trampolin.

Ini karena di usia satu tahun, biasanya anak sudah dapat berjalan. Sehingga saat menemui dataran lentur, ia akan belajar menyesuaikan diri.

Penulis :
Rifeni