Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

BKKBN Tanggapi Pernikahan Viral Azkiave, Tegaskan Risiko Nikah Muda dari Perspektif Demografi

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

BKKBN Tanggapi Pernikahan Viral Azkiave, Tegaskan Risiko Nikah Muda dari Perspektif Demografi
Foto: (Sumber: Sejumlah pasangan pengantin menerima buku nikah saat resepsi nikah massal di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Senin (22/12/2025). Pemerintah Kabupaten Kediri menggelar nikah massal yang diikuti oleh 44 pasangan pengantin berbagai usia dari keluarga kurang mampu sebagai upaya membantu masyarakat mendapatkan pengukuhan hukum perkawinan yang sah dan tercatat sebagai pernikahan resmi oleh negara. ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani.)

Pantau - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) memberikan tanggapan terhadap video viral konten kreator Azkiave yang menikah di usia 19 tahun dengan Yuka, suaminya yang berusia 29 tahun.

Pernikahan Dini Dinilai Berdampak Luas, Bukan Sekadar Pilihan Pribadi

Sekretaris BKKBN, Budi Setiyono, menyampaikan tanggapannya dari Jakarta pada Rabu melalui pesan singkat.

Menurut Budi, pernikahan usia muda harus dilihat dari sudut pandang demografi, bukan semata peristiwa sosial.

Ia menjelaskan bahwa pernikahan dini dapat memengaruhi struktur penduduk, kesehatan, pendidikan, hingga ekonomi.

"Nikah muda dapat berdampak langsung pada kualitas sumber daya manusia karena sering terjadi pada usia ketika individu belum matang secara fisik, mental, dan sosial. Jika praktik ini meluas, dampaknya tidak hanya mempengaruhi individu, tetapi juga masyarakat dan negara, terutama dalam konteks pembangunan jangka panjang," ujarnya.

Selama ini, kata Budi, masyarakat cenderung menganggap nikah muda sebagai pilihan pribadi, tanpa mempertimbangkan kesiapan usia secara biologis, psikologis, dan sosial.

Pendidikan, Kesehatan, dan Kesiapan Ekonomi Jadi Sorotan

Kemendukbangga/BKKBN menyarankan agar pernikahan tidak dilakukan di usia remaja.

"Dalam konteks pembangunan, pernikahan di usia remaja sering dikaitkan dengan keterbatasan pendidikan, minimnya kesiapan ekonomi, dan kurangnya pemahaman tentang kesehatan reproduksi. Dari perspektif demografi, usia pernikahan yang terlalu dini cenderung berkorelasi dengan tingginya risiko kesehatan, sosial dan ekonomi," jelas Budi.

Ia menegaskan pentingnya kesiapan fisik, psikologis, sosial, dan ekonomi dari kedua belah pihak sebelum memutuskan membentuk keluarga.

Kesadaran untuk mempersiapkan pernikahan secara matang disebut sebagai kunci membangun keluarga yang sehat dan berdaya saing.

Video Pernikahan Viral dan Pandangan Suami Azkiave Tuai Polemik

Kasus ini mencuat setelah video pernikahan Azkiave yang menikah pada usia 19 tahun menjadi viral di media sosial.

Dalam salah satu kontennya, Azkiave berbincang dengan suaminya, Yuka, yang juga seorang konten kreator berusia 29 tahun.

Dalam video tersebut, Azkiave bertanya kepada Yuka tentang langkah yang sebaiknya diambil oleh lulusan SMA yang tidak diterima kuliah.

Yuka menjawab bahwa seseorang harus tetap bersyukur karena kuliah bukan satu-satunya jalan menuju kesuksesan.

Namun pernyataannya menjadi kontroversial saat ia menyebut bahwa kuliah bisa menjadi "penipuan" (scam) jika tidak sesuai dengan spesialisasi.

Pernyataan tersebut menuai perdebatan luas di kalangan warganet dan memicu diskusi tentang pentingnya pendidikan formal.

Artikel ini juga menyinggung pernyataan sebelumnya dari Menteri Kesehatan yang menyebut bahwa pernikahan usia anak berisiko menyebabkan bayi lahir dalam kondisi kerdil (stunting).

Secara umum, BKKBN terus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menunda pernikahan hingga usia matang guna mendukung pembangunan keluarga yang sehat dan sejahtera.

Penulis :
Aditya Yohan
Editor :
Tria Dianti