HOME  ⁄  Lifestyle

Kurang Tidur dan Stres Kronis Disebut Ganggu Ritme Hormon Kortisol serta Tingkatkan Risiko Penyakit

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Kurang Tidur dan Stres Kronis Disebut Ganggu Ritme Hormon Kortisol serta Tingkatkan Risiko Penyakit
Foto: (Sumber :Ilustrasi - Seorang perempuan mengenakan penutup mata saat tidur. ANTARA/HO-Pexels/ Polina Kovaleva..)

Pantau - Kurang tidur dan stres kronis dapat mengganggu ritme alami hormon kortisol yang berperan penting dalam mengatur respons tubuh terhadap stres, metabolisme, serta siklus tidur dan bangun, menurut para ahli kesehatan.

Gangguan ritme kortisol tersebut berpotensi meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, mulai dari resistensi insulin hingga penyakit jantung.

Stres Kronis dan Kurang Tidur Picu Kadar Kortisol Tidak Normal

Dokter spesialis endokrin Maram Khalifa menjelaskan kortisol merupakan hormon penting yang berfungsi sebagai sistem alarm alami tubuh.

“Kortisol adalah sistem alarm alami tubuh. Kadarnya secara normal mencapai puncak pada pagi hari untuk membantu kita bangun dan menurun pada malam hari agar tubuh dapat beristirahat,” ungkap Khalifa.

Menurutnya, stres yang berlangsung dalam jangka panjang membuat tubuh mempertahankan kadar kortisol tetap tinggi lebih lama dari yang seharusnya.

Kondisi tersebut menyebabkan kadar kortisol meningkat pada malam hari saat hormon itu seharusnya berada pada level rendah.

Akibatnya, tubuh menjadi lebih sulit memasuki fase relaksasi dan pemulihan yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan.

Khalifa menambahkan gangguan ritme kortisol dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko resistensi insulin, penyakit jantung, kecemasan, dan depresi.

Ahli Sarankan Kelola Stres dan Jaga Kualitas Tidur

Dokter Simran Malhotra mengatakan orang yang secara konsisten kurang tidur cenderung memiliki kadar kortisol lebih tinggi menjelang waktu tidur.

“Kualitas dan durasi tidur yang buruk dapat membuat kadar kortisol malam hari tetap tinggi,” ujarnya.

Ia menyebut kebiasaan begadang karena bermain gawai, menonton tayangan secara berlebihan, atau menyelesaikan pekerjaan dapat memperburuk kondisi tersebut.

Khalifa menjelaskan gangguan ritme kortisol juga dapat memengaruhi sensitivitas insulin, toleransi glukosa, meningkatkan penumpukan lemak di area perut, hingga memicu sindrom metabolik.

Untuk menjaga ritme kortisol tetap sehat, para ahli menyarankan masyarakat mengelola stres melalui meditasi, latihan pernapasan, yoga, maupun terapi perilaku kognitif.

Aktivitas fisik secara teratur, jadwal tidur yang konsisten selama tujuh hingga sembilan jam setiap malam, serta rutinitas harian yang teratur juga dinilai membantu menjaga keseimbangan hormon tersebut.

Para ahli menegaskan suplemen penurun kortisol bukan solusi utama karena kualitas tidur yang baik dan pengelolaan stres tetap menjadi langkah yang paling didukung bukti ilmiah untuk menjaga ritme kortisol tetap normal.

Penulis :
Aditya Yohan