HOME  ⁄  Lifestyle

Fenomena Selebcat Viral di Media Sosial, Dokter Hewan Ingatkan Risiko Stres pada Kucing di Tempat Umum

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Fenomena Selebcat Viral di Media Sosial, Dokter Hewan Ingatkan Risiko Stres pada Kucing di Tempat Umum
Foto: (Sumber :Arsip Foto - Kucing di tempat umum. (ANTARA/Arnidhya Nur Zhafira).)

Pantau - Fenomena kucing yang viral di media sosial atau dikenal sebagai selebcat mendapat perhatian dokter hewan karena interaksi berlebihan dari pengunjung berpotensi menyebabkan stres, ketakutan, hingga perilaku agresif pada kucing yang tinggal di tempat umum.

Dokter hewan Trima Naimmah menjelaskan bahwa popularitas kucing di stasiun kereta, pusat perbelanjaan, dan ruang publik lainnya memiliki dampak positif sekaligus risiko terhadap kesejahteraan hewan.

Saat dihubungi di Jakarta, Kamis (29/10/2026), Trima menyebut fenomena tersebut dapat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kucing dan menjadi sarana edukasi mengenai kesejahteraan hewan.

Namun, ia mengingatkan bahwa perhatian berlebihan, termasuk mengelus, memotret, dan mengerumuni kucing, dapat membuat hewan tersebut merasa tidak nyaman.

"Setiap individu kucing itu memiliki respons, karakter, toleransi yang berbeda ketika didekati, dielus, difoto, bahkan dikerumuni," kata Trima.

Dokter Hewan Ungkap Risiko Fenomena Selebcat bagi Kucing

Trima menjelaskan bahwa setiap kucing memiliki karakter dan tingkat toleransi berbeda ketika berinteraksi dengan manusia.

Menurut lulusan Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor tersebut, tidak semua kucing merasa nyaman saat didekati atau disentuh orang asing.

Kondisi itu perlu menjadi perhatian, terutama terhadap kucing yang memiliki pengalaman traumatis dalam berhubungan dengan manusia.

Ia mengingatkan bahwa interaksi yang terlalu intens dapat memicu respons ketakutan maupun perilaku agresif.

"Bisa jadi kucingnya merasa tidak nyaman, takut, atau bahkan langsung menyerang jika karakternya memang garang," kata anggota Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) itu.

Trima menilai masyarakat perlu memahami bahwa popularitas seekor kucing di media sosial tidak berarti hewan tersebut selalu siap menerima perhatian pengunjung.

Kenali Tanda Kucing Stres akibat Interaksi Berlebihan

Trima mengungkapkan sejumlah tanda yang dapat menunjukkan kucing mengalami stimulasi berlebihan ketika berada di tengah kerumunan.

Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah perubahan pola pernapasan menjadi lebih cepat disertai detak jantung yang meningkat.

Kucing yang merasa terganggu juga dapat menggerakkan ekornya dengan cepat seperti gerakan mencambuk.

Selain itu, perilaku menggeram dan mendesis dapat menjadi tanda bahwa kucing merasa terancam atau tidak nyaman.

Perubahan bahasa tubuh lainnya meliputi telinga yang mengarah ke belakang, pupil mata membesar, serta rambut yang berdiri tegak.

Dalam kondisi tertentu, kucing dapat berusaha menepis tangan orang yang mendekat atau menunjukkan perilaku mencakar dan menggigit.

Menurut Trima, tanda-tanda tersebut perlu dikenali agar masyarakat tidak memaksakan interaksi ketika kucing sedang merasa tertekan.

Pengunjung Diminta Tidak Memaksa Kucing untuk Dielus

Trima menekankan bahwa kucing merupakan makhluk hidup yang memiliki kebutuhan dan batas kenyamanan, bukan objek hiburan bagi pengunjung tempat umum.

Karena itu, masyarakat diminta memperhatikan kondisi kucing sebelum mencoba mendekat atau menyentuhnya.

"Baiknya kita lihat dulu situasi kucing, apakah sedang santai, juga jangan berikan gerakan mendadak yang membuat dia kaget," katanya.

Ia menyarankan agar pengunjung membiarkan kucing mengambil inisiatif untuk mendekat terlebih dahulu.

"Sebaiknya juga biarkan kucing mendekat sendiri, sampai dia mencium dan mengendus tangan kita misalnya, itu bisa jadi tanda dia bersedia kontak dengan kita," ia menambahkan.

Menurutnya, perilaku kucing yang bersedia mendekat atau menerima sentuhan tidak berarti hewan tersebut ingin terus-menerus dielus.

"Jadi elus sewajarnya, jangan berlebihan, jangan berikan gerakan tiba-tiba yang membuatnya kaget," katanya.

Trima mengingatkan agar masyarakat tidak melakukan gerakan tiba-tiba yang berpotensi mengejutkan kucing ketika berinteraksi.

Menjaga Jarak Juga Menjadi Bentuk Kepedulian terhadap Hewan

Trima menegaskan bahwa menunjukkan kasih sayang kepada kucing tidak harus dilakukan dengan menyentuh, menggendong, atau mengajaknya bermain.

Menurutnya, memberikan ruang bagi kucing untuk beristirahat dan beraktivitas dengan nyaman juga merupakan bentuk perhatian terhadap kesejahteraan hewan.

Pengunjung tempat umum diharapkan tidak memaksakan interaksi hanya karena ingin mengambil foto atau video untuk dibagikan melalui media sosial.

Ia menilai kepedulian terhadap kucing sebaiknya diwujudkan dengan menghormati perilaku alami dan batas kenyamanan masing-masing hewan.

Fenomena selebcat juga dapat dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai cara berinteraksi secara aman dan bertanggung jawab dengan hewan di ruang publik.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026