HOME  ⁄  Lifestyle

Dokter Ingatkan Risiko Benjolan dan Peradangan akibat Suntik Stimulator Kolagen, Pasien Diminta Cermat Pilih Perawatan

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Dokter Ingatkan Risiko Benjolan dan Peradangan akibat Suntik Stimulator Kolagen, Pasien Diminta Cermat Pilih Perawatan
Foto: (Sumber :Ilustrasi dokter estetika dr. Venny Veronica, MSc (UK) sedang memeriksa pasien. ANTARA/HO.)

Pantau - Dokter estetika Venny Veronica mengingatkan masyarakat agar mempertimbangkan risiko komplikasi sebelum menjalani prosedur suntik stimulator kolagen, termasuk kemungkinan munculnya benjolan dan peradangan pada jaringan kulit akibat penggunaan bahan atau teknik penyuntikan yang tidak sesuai.

Venny yang berpraktik di BMDERMA Clinic Jakarta menjelaskan bahwa pemilihan stimulator kolagen harus mempertimbangkan kondisi kulit pasien, karakteristik bahan, serta metode penyuntikan.

Dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis (29/10/2026), ia menegaskan bahwa keamanan prosedur estetika tidak hanya ditentukan oleh jenis produk yang digunakan.

“Pemilihan produk yang tepat, pemahaman terhadap anatomi dan karakteristik kulit, serta teknik aplikasi yang sesuai akan menentukan hasil yang optimal,” kata Venny.

Stimulator Kolagen Bekerja Secara Bertahap pada Jaringan Kulit

Stimulator kolagen merupakan bahan yang digunakan dalam prosedur estetika medis untuk merangsang pembentukan kolagen di dalam jaringan kulit.

Kolagen adalah protein yang berperan dalam mempertahankan struktur, kekencangan, dan elastisitas kulit.

Salah satu bahan yang digunakan dalam prosedur tersebut adalah asam poli-L-laktat atau poly-L-lactic acid (PLLA).

Venny menjelaskan bahwa stimulator kolagen berbahan PLLA bekerja dengan merangsang respons jaringan tubuh untuk membentuk kolagen secara bertahap.

Karena proses tersebut membutuhkan waktu, hasil perawatan tidak langsung terlihat setelah penyuntikan dilakukan.

Menurutnya, karakteristik partikel bahan, penyebaran zat di jaringan, serta respons biologis tubuh menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam prosedur tersebut.

Perbedaan formulasi produk dan teknik penyuntikan juga dapat memengaruhi hasil perawatan maupun kemungkinan terjadinya komplikasi.

Dokter Ungkap Risiko Nodul dan Granuloma Setelah Penyuntikan

Venny mengingatkan bahwa salah satu risiko penggunaan stimulator kolagen adalah terbentuknya nodul atau benjolan pada jaringan.

Komplikasi lain yang dapat muncul adalah granuloma, yakni kumpulan sel peradangan yang terbentuk sebagai respons tubuh terhadap bahan tertentu.

Risiko tersebut dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk karakteristik bahan yang digunakan dan teknik penyuntikan.

Respons tubuh masing-masing pasien juga menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum tindakan dilakukan.

Karena itu, pemeriksaan kondisi kulit dan penilaian medis diperlukan untuk menentukan kesesuaian prosedur dengan kebutuhan pasien.

Pasien juga perlu memahami bahwa setiap tindakan estetika memiliki manfaat, keterbatasan, serta kemungkinan efek samping.

Pasien Diminta Konsultasi Sebelum Menjalani Suntik Kolagen

Venny menekankan pentingnya berkonsultasi dengan dokter yang memiliki kompetensi sebelum menjalani prosedur stimulator kolagen.

Dalam konsultasi tersebut, dokter perlu menjelaskan manfaat yang diharapkan dari tindakan estetika.

Pasien juga perlu mendapatkan informasi mengenai risiko komplikasi, keterbatasan prosedur, dan pilihan perawatan alternatif.

Selain itu, dokter harus menjelaskan langkah penanganan yang dapat dilakukan apabila muncul komplikasi setelah penyuntikan.

Venny turut mengingatkan pentingnya memahami petunjuk perawatan setelah prosedur dilakukan.

Pada sejumlah formulasi PLLA, pemijatan setelah penyuntikan dapat dianjurkan untuk membantu distribusi bahan di dalam jaringan.

Namun, kebutuhan pemijatan dan perawatan lanjutan harus mengikuti karakteristik produk serta protokol klinis yang berlaku.

Teknologi Partikel PLLA Berkembang, Keamanan Tetap Perlu Bukti Klinis

Perkembangan teknologi estetika mendorong produsen mengembangkan formulasi PLLA dengan karakteristik partikel yang berbeda.

Salah satu inovasi tersebut adalah penggunaan partikel berbentuk mikrosfer dengan ukuran yang lebih seragam.

Meski demikian, klaim bahwa karakteristik partikel tertentu dapat menghilangkan peradangan atau sepenuhnya mencegah komplikasi tetap memerlukan dukungan bukti klinis yang memadai.

Salah satu produk yang menggunakan teknologi mikrosfer PLLA adalah Julaine, yang dipasarkan sebagai stimulator kolagen generasi terbaru.

Produk tersebut menggunakan partikel berukuran lebih seragam dan disebut tidak memerlukan pemijatan khusus setelah penyuntikan.

Kendati demikian, kebutuhan perawatan setelah tindakan tetap harus mengacu pada petunjuk penggunaan produk dan hasil penilaian dokter.

Venny menegaskan bahwa keberhasilan prosedur estetika tidak hanya bergantung pada teknologi atau bahan yang digunakan.

Kompetensi dokter, ketepatan teknik penyuntikan, dan kesesuaian tindakan dengan kondisi pasien tetap menjadi faktor penting dalam menentukan hasil serta keamanan perawatan.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026