HOME  ⁄  Lifestyle

Perajin Topeng Bantul Ki Supono Pelajari Tari dan Tembang Jawa agar Karya Memiliki Karakter Kuat hingga Diminati Pasar Dunia

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Perajin Topeng Bantul Ki Supono Pelajari Tari dan Tembang Jawa agar Karya Memiliki Karakter Kuat hingga Diminati Pasar Dunia
Foto: (Sumber :Perajin topeng klasik Ki Supono menunjukkan sejumlah topeng hasil karyanya di Sanggar Warnowaskito, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (29/10/2026). ANTARA/Farika Nur Khotimah..)

Pantau - Perajin topeng tradisional asal Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Ki Supono, memadukan keterampilan seni tari, tembang Jawa, dan pedalangan untuk memperkuat karakter topeng klasik yang diproduksinya di Sanggar Warnowaskito, Desa Diro, Pendowoharjo.

Supono mengatakan pemahaman terhadap seni pertunjukan menjadi bekal penting bagi perajin agar topeng yang dihasilkan tidak hanya memiliki bentuk yang halus, tetapi juga mampu menggambarkan watak tokoh.

"Bukannya untuk terus menjadi penari atau dalang profesional, keterampilan saya tetap pembuat topeng. Tetapi bekal itu harus ada karena hasilnya nanti akan sangat berbeda," kata Supono saat ditemui di sanggarnya, Kamis (29/10/2026).

Perajin yang menekuni pembuatan topeng sejak 1971 tersebut meyakini bahwa penguasaan gerak tari dan pemahaman karakter tokoh berpengaruh terhadap hasil pahatan yang digunakan dalam pertunjukan.

Ki Supono Pelajari Tari untuk Memahami Karakter Topeng

Supono menjelaskan bahwa setiap topeng tradisional memiliki karakter berbeda sesuai peran tokoh yang ditampilkan dalam pertunjukan.

Karakter tersebut meliputi kesatria halus, tokoh jenaka, raja, hingga raksasa yang masing-masing mempunyai ekspresi dan gerakan khas.

Menurutnya, perajin perlu memahami gerak tubuh serta watak tokoh agar karakter tersebut dapat dituangkan ke dalam bentuk topeng.

"Harus tahu karakternya seperti apa. Kalau tahu gerakannya, otomatis nanti kalau memproses akan tersalur ke dalam karya. Kalau (pengrajin) tidak bisa joget, ya cuma sekadar halus, tapi, karakternya kurang," ujar Supono.

Ia menilai kemampuan menari bukan untuk menjadikan dirinya penari profesional, melainkan untuk memperdalam pemahaman terhadap kebutuhan seni pertunjukan.

Dengan bekal tersebut, Supono berusaha menghadirkan ekspresi yang sesuai dengan karakter tokoh melalui detail pahatan wajah.

Tembang Macapat Jadi Bagian dari Proses Pembuatan Topeng

Selain mempelajari seni tari, Supono membiasakan diri melantunkan tembang macapat Jawa ketika memahat kayu.

Beberapa tembang yang kerap dinyanyikannya adalah Dhandhanggula, Pocung, dan Mijil.

Menurutnya, tembang Jawa membantu melatih kesabaran dan kepekaan rasa selama proses pembentukan topeng.

"Nembang itu sangat lembut, artinya di dalam proses membuat topeng itu perlu kesabaran. Makanya saya kalau berkarya ya sambil nembang," tutur dia.

Supono meyakini perpaduan antara gerak tari, tembang, dan keterampilan memahat dapat membangun hubungan emosional antara pembuat topeng dan karya yang dihasilkan.

"Setiap topeng punya ikatan batin karena lahir dari proses emosional. Tulang dan dagingnya adalah kayu, sedangkan karakternya adalah rohnya," kata Supono.

Sanggar Warnowaskito Produksi Topeng Panji hingga Perlengkapan Tari

Di Sanggar Warnowaskito, Supono menghasilkan berbagai perlengkapan seni pertunjukan tradisional maupun kontemporer.

Produk utamanya meliputi topeng kayu tradisi cerita Panji gaya Yogyakarta dan topeng untuk pertunjukan kontemporer.

Ia juga mengembangkan topeng alternatif dengan memanfaatkan kertas bekas kemasan semen sebagai bahan daur ulang.

Selain topeng, sanggar tersebut memproduksi mahkota penari atau irah-irahan, busana tari tradisional, keris, dan kain batik.

Supono juga menerima pesanan pembuatan wayang golek serta instrumen keprak jinjing berbahan kayu nangka untuk kebutuhan pertunjukan teater.

Beragam produk tersebut dibuat untuk memenuhi kebutuhan pelaku seni pertunjukan yang memerlukan perlengkapan dengan karakter tertentu.

Topeng Karya Ki Supono Diminati Penikmat Seni Mancanegara

Karya seni yang diproduksi Sanggar Warnowaskito tidak hanya diminati penikmat seni di Indonesia, tetapi juga menjangkau pasar internasional.

Supono menyebut hasil karyanya diminati penikmat seni dari Australia, Amerika, dan Eropa.

Keterampilan membuat topeng tersebut diwarisinya dari sang kakek, Ki Warno Waskito.

Supono mulai menekuni seni pembuatan topeng pada 1971 dan terus mempertahankan keterampilan tradisional yang diwariskan keluarganya.

Selain berkarya sebagai perajin, ia juga aktif mengabdi sebagai abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sejak 1976.

Melalui Sanggar Warnowaskito, Supono terus menjalankan tradisi pembuatan topeng dengan memadukan keterampilan memahat, pemahaman tari, dan tembang Jawa.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026