
Pantau - Psikolog klinis Michelle P. Maidenberg menjelaskan sejumlah cara menghadapi kritik, penolakan, dan sikap tidak menyenangkan dari orang lain tanpa membiarkan pengalaman tersebut merusak kepercayaan diri maupun memengaruhi suasana hati secara berlebihan.
Menurut Maidenberg, kebiasaan menganggap perkataan atau tindakan orang lain sebagai serangan pribadi sering berkaitan dengan rasa tidak aman, pengalaman hubungan masa lalu, serta keinginan untuk diterima oleh lingkungan sosial.
Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (3/11/2026), Maidenberg mengatakan seseorang terkadang membiarkan kritik, ketidaksetujuan, atau respons negatif orang lain menentukan cara mereka memandang dirinya sendiri.
Psikolog bergelar Ph.D., MPH, dan LCSW-R tersebut menekankan pentingnya membangun kemampuan mengelola respons emosional agar seseorang tidak selalu mengaitkan perilaku orang lain dengan kekurangan dirinya.
Psikolog Ingatkan Tidak Semua Orang Harus Menyukai Kita
Maidenberg menjelaskan bahwa salah satu langkah menghadapi kritik adalah memahami bahwa setiap orang memiliki preferensi, nilai, kebutuhan, dan kepribadian yang berbeda.
Perbedaan tersebut membuat seseorang tidak mungkin selalu mendapatkan persetujuan atau penerimaan dari semua orang.
Menurutnya, penolakan tidak selalu berarti seseorang memiliki kekurangan atau melakukan kesalahan.
Dalam hubungan sosial, ketidakcocokan dapat terjadi karena perbedaan kebutuhan, pandangan, maupun situasi yang tidak mendukung.
Karena itu, seseorang disarankan tidak langsung menjadikan penolakan sebagai ukuran nilai dirinya.
Maidenberg juga mengingatkan bahwa seseorang tidak dapat mengetahui secara pasti apa yang sedang dipikirkan orang lain.
Sikap diam, respons singkat, atau perilaku kurang ramah tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang sedang marah atau memiliki perasaan negatif terhadap kita.
Kesimpulan yang dibuat tanpa informasi memadai justru dapat memicu kecemasan dan memengaruhi kepercayaan diri.
Kritik dan Sikap Kasar Bisa Berkaitan dengan Masalah Pribadi Orang Lain
Maidenberg menjelaskan bahwa kritik atau perilaku kasar terkadang lebih mencerminkan kondisi emosional orang yang menyampaikannya.
Perasaan tidak aman, frustrasi, serta pengalaman pribadi yang belum terselesaikan dapat memengaruhi cara seseorang berbicara dan berinteraksi.
Selain itu, kelelahan dan stres juga dapat menyebabkan seseorang menunjukkan respons yang kurang menyenangkan.
Oleh karena itu, suasana hati buruk seseorang tidak selalu berkaitan dengan tindakan atau keberadaan orang yang sedang berhadapan dengannya.
Maidenberg menyarankan agar seseorang belajar mengamati emosi negatif orang lain tanpa harus ikut menyerapnya.
Seseorang tetap dapat menunjukkan empati dan memahami kondisi orang lain tanpa mengambil alih beban emosional yang sedang mereka alami.
Kemampuan membedakan perasaan pribadi dengan emosi orang lain dinilai penting untuk menjaga keseimbangan emosional dalam hubungan sosial.
Penolakan Tidak Menentukan Nilai Diri Seseorang
Dalam menghadapi penolakan, Maidenberg menyarankan agar seseorang tidak langsung menganggap pengalaman tersebut sebagai bukti bahwa dirinya tidak cukup baik.
Menurutnya, penolakan dalam hubungan dapat terjadi akibat ketidakcocokan, perbedaan kebutuhan, atau waktu yang tidak tepat.
Faktor-faktor tersebut tidak selalu berkaitan dengan kualitas maupun nilai pribadi seseorang.
Meski demikian, Maidenberg menegaskan bahwa respons orang lain tetap dapat digunakan sebagai bahan evaluasi terhadap perilaku dan cara berkomunikasi.
Apabila seseorang memang melakukan kesalahan, langkah yang tepat adalah mengakuinya dan memperbaiki interaksi yang bermasalah.
Dengan demikian, menghadapi kritik bukan berarti mengabaikan seluruh masukan dari orang lain.
Seseorang tetap perlu membedakan antara kritik yang dapat membantu perbaikan diri dan penilaian negatif yang tidak perlu dijadikan dasar untuk mengukur harga diri.
Hindari Terus Memikirkan Kritik dan Percakapan Negatif
Maidenberg juga menyoroti kebiasaan memikirkan kembali percakapan yang tidak menyenangkan secara berulang.
Kebiasaan tersebut dapat menguras energi emosional, terutama ketika seseorang terus mencoba menebak penilaian orang lain terhadap dirinya.
Selain itu, terlalu sering mengantisipasi penolakan atau berusaha mengubah pandangan semua orang dapat membuat seseorang semakin sulit mengelola emosinya.
Menurut Maidenberg, menjaga energi emosional dapat dilakukan dengan membatasi perhatian terhadap hal-hal yang berada di luar kendali pribadi.
Seseorang dapat mempertimbangkan kritik yang relevan, memperbaiki kesalahan apabila diperlukan, dan menerima bahwa tidak semua respons orang lain dapat dikendalikan.
Ia menekankan bahwa seseorang tetap mungkin merasa sedih atau kecewa akibat perlakuan orang lain, tetapi pengalaman tersebut tidak harus menentukan bagaimana mereka memandang dirinya sendiri.
Dengan memahami perbedaan antara kritik, penolakan, dan nilai pribadi, seseorang dapat membangun respons emosional yang lebih sehat dalam menghadapi berbagai situasi sosial.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




