
Pantau - Ilmuwan neurologi di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa olahraga teratur, latihan kognitif, dan pola hidup sehat dapat membantu menurunkan risiko demensia pada perempuan setelah menopause, terutama ketika penurunan hormon estrogen mulai memengaruhi fungsi otak.
Profesor Neurologi Universitas California, Los Angeles (UCLA), Rhonda Voskuhl, menjelaskan bahwa menopause tidak hanya memengaruhi kondisi fisik perempuan, tetapi juga dapat berdampak pada daya ingat, konsentrasi, dan kemampuan berpikir.
Menurut laporan Eating Well, Rabu (4/11/2026), perubahan kadar estrogen selama menopause menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kesehatan otak perempuan.
Voskuhl, yang juga merupakan ahli saraf pendiri Program Menopause Komprehensif UCLA, menekankan pentingnya aktivitas fisik untuk menjaga kesehatan pembuluh darah dan mendukung fungsi otak.
Penurunan Estrogen Saat Menopause Dapat Memengaruhi Fungsi Otak
Voskuhl menjelaskan bahwa tubuh dan otak perempuan memiliki banyak reseptor estrogen yang berperan dalam menjaga kesehatan berbagai organ.
Hormon estrogen memberikan manfaat bagi kulit, tulang, jantung, serta otak perempuan.
Namun, ketika perempuan memasuki masa menopause, kadar hormon tersebut dapat mengalami penurunan drastis.
Kondisi ini umumnya terjadi ketika perempuan memasuki awal usia 50-an.
Menurut Voskuhl, penurunan estrogen yang terjadi secara tiba-tiba dapat berkaitan dengan penyusutan pada bagian tertentu di otak.
Perubahan tersebut dapat memicu gangguan fungsi kognitif yang dikenal sebagai brain fog atau kabut otak.
Gejalanya meliputi kesulitan mengingat informasi, penurunan memori verbal, berkurangnya kecepatan pemrosesan informasi, serta gangguan alur berpikir.
"Sel-sel di area otak yang berperan dalam memori tidak lagi mendapatkan dukungan dari estrogen. Akibatnya, sel-sel tersebut juga tidak mampu mendukung sel-sel saraf yang membentuk koneksi," kata Voskuhl.
Olahraga Bantu Menjaga Aliran Darah ke Otak
Voskuhl menjelaskan bahwa aktivitas fisik dapat memberikan manfaat terhadap kesehatan otak melalui perbaikan fungsi sistem kardiovaskular.
Menurutnya, olahraga berperan dalam menurunkan risiko aterosklerosis atau penumpukan plak pada pembuluh darah.
Aterosklerosis merupakan salah satu faktor risiko penyakit jantung dan stroke yang juga dapat memengaruhi kesehatan otak.
Pembuluh darah yang lebih sehat memungkinkan aliran darah menuju otak berlangsung dengan lebih baik.
Voskuhl menyebut olahraga berpotensi memberikan pengaruh positif terhadap tiga kelompok demensia, yakni penyakit Alzheimer, demensia vaskular, serta demensia campuran.
Ia juga menyampaikan bahwa sekitar dua pertiga kasus Alzheimer terjadi pada perempuan.
"Ketika memikirkan ketiga jenis demensia tersebut, olahraga menjadi sangat penting karena dapat memberikan pengaruh terhadap sistem kardiovaskular," kata Voskuhl.
Selain melalui kesehatan pembuluh darah, aktivitas fisik juga dinilai dapat mendukung kesehatan otak secara langsung.
"Aktivitas fisik dapat membantu kesehatan otak melalui dua cara, yakni secara tidak langsung dengan mengurangi masalah kardiovaskular dan secara langsung melalui faktor yang mendukung kesehatan otak tersebut. Hal ini sangat menarik. Karena itu, kita membutuhkan aktivitas fisik," ujar dia.
Jalan Cepat hingga Berenang Dianjurkan untuk Perempuan Menopause
Voskuhl menyarankan perempuan melakukan olahraga kardiovaskular secara teratur untuk membantu menjaga kesehatan jantung dan otak.
Jenis aktivitas yang dapat dilakukan antara lain jalan cepat, bersepeda, joging, dan berenang.
Olahraga tersebut membantu meningkatkan detak jantung sekaligus melatih kebugaran tubuh.
Voskuhl menganjurkan latihan kardio sebanyak tiga kali dalam seminggu dengan durasi sekitar 30 menit setiap sesi.
Selain olahraga kardio, perempuan juga disarankan melakukan latihan kekuatan otot menggunakan beban.
Latihan angkat beban selama sekitar 30 menit dapat menjadi bagian dari aktivitas fisik untuk mendukung kesehatan tulang.
Kombinasi latihan kardiovaskular dan kekuatan otot dinilai bermanfaat bagi perempuan yang mengalami perubahan kondisi tubuh setelah menopause.
Latihan Kognitif Penting untuk Menjaga Daya Ingat
Selain olahraga, Voskuhl menekankan pentingnya latihan kognitif untuk mempertahankan kemampuan berpikir dan mengingat.
Namun, latihan tersebut tidak hanya terbatas pada permainan asah otak yang biasa dilakukan.
Ia menyarankan kegiatan yang secara khusus melatih memori verbal, konsentrasi, dan kecepatan pemrosesan informasi.
Mempelajari keterampilan atau pengetahuan baru juga dapat menjadi salah satu cara untuk memberikan stimulasi kepada otak.
Aktivitas tersebut membantu otak tetap aktif melalui proses belajar dan pengolahan informasi.
Menurut Voskuhl, latihan fisik dan kognitif dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan otak perempuan setelah menopause.
Pola Makan Bergizi dan Hubungan Sosial Turut Berperan
Voskuhl juga mengingatkan bahwa kesehatan otak tidak hanya dipengaruhi oleh aktivitas fisik dan latihan kognitif.
Pola makan bergizi menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menjaga kesehatan tubuh dan otak.
Selain itu, hubungan sosial dengan teman dan keluarga juga dianjurkan sebagai bagian dari gaya hidup sehat.
Sementara itu, sebagian perempuan menggunakan terapi atau suplemen estrogen untuk membantu mengatasi gejala menopause, seperti sensasi panas mendadak atau hot flashes.
Penggunaan estrogen tersebut perlu dilakukan berdasarkan rekomendasi tenaga kesehatan.
Melalui olahraga teratur, stimulasi kognitif, konsumsi makanan bergizi, dan hubungan sosial yang baik, perempuan dapat melakukan langkah-langkah untuk membantu menjaga fungsi otak seiring bertambahnya usia.
- Penulis :
- Aditya Yohan
- Editor :
- Aditya Yohan




