
Pantau - PT Dirgantara Indonesia (PTDI) resmi memulai proyek modernisasi dan peremajaan sembilan unit pesawat angkut berat C-130 Hercules milik TNI Angkatan Udara, ditandai dengan kedatangan unit pertama ke hanggar Aircraft Services (ACS) PTDI di Bandung, Rabu, 26 November 2025.
Modernisasi Cakup Penggantian Sayap dan Avionik
Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI, Moh Arif Faisal, menjelaskan bahwa proyek ini mencakup pengerjaan Center Wing Box Replacement (CWBR) dan Avionic Upgrade Program (AUP).
"Pekerjaan yang seluruhnya akan dikerjakan oleh PTDI," ungkapnya.
Modernisasi ini ditujukan untuk memperpanjang masa pakai pesawat yang rata-rata telah beroperasi selama sekitar 40 tahun.
Kontrak proyek ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan antara PTDI dan Badan Logistik Pertahanan (Baloghan) Kementerian Pertahanan RI yang ditandatangani pada 1 April 2022, dan mulai efektif sejak 1 Februari 2024.
Sejak Oktober 2024, PTDI juga telah menjalin kerja sama strategis dengan Komando Pemeliharaan Materiel (Kohartamat) TNI AU untuk mendukung kelancaran proyek ini.
Kerja sama tersebut mencakup pendayagunaan SDM dari PTDI dan TNI AU, pemanfaatan special tools dan ground support equipment, serta penggunaan fasilitas bonding & composite milik PTDI.
"Hal tersebut merupakan salah satu upaya PTDI dalam menyiapkan fasilitas teknis, peralatan khusus, serta qualified personnel yang dibutuhkan untuk memastikan kelancaran proses modernisasi sembilan unit C-130 ini dan ke depan," ia mengungkapkan.
Dikerjakan di Dalam Negeri, Perkuat Kemandirian Industri Pertahanan
Seluruh proses modernisasi dilakukan di dalam negeri dengan kemampuan dan fasilitas yang dimiliki oleh PTDI.
Langkah ini juga dinilai sebagai strategi pemerintah untuk memperkuat kemandirian nasional dalam pemeliharaan dan modernisasi pesawat angkut berat strategis TNI AU.
Pesawat C-130 memiliki peran vital dalam misi logistik, operasi kemanusiaan, serta mendukung kekuatan pertahanan negara.
Modernisasi lokal ini juga ditujukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap fasilitas luar negeri dan mempercepat siklus pemeliharaan pesawat TNI AU.
"Bagi PTDI, program ini merupakan investasi jangka panjang dalam pengembangan kompetensi teknis, peningkatan kemampuan produksi komponen, serta penguatan ekosistem industri pertahanan dirgantara nasional," kata Arif.
Kolonel Fitra A Yani, Pengelola Pengadaan Barang/Jasa Madya Pus Alpalhan Baloghan Kemhan RI, menyatakan bahwa proyek ini sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam pemberdayaan industri pertahanan dalam negeri.
"Dan besar harapan bagi Kementerian Pertahanan bahwa itu semua harus bisa dilaksanakan pemeliharaannya atau dukungannya oleh industri pertahanan kita dalam hal ini salah satunya PTDI. Karena untuk kekuatan TNI AU sendiri tidak mungkin untuk melaksanakan sendiri. Jadi ini merupakan awal yang baik," ujarnya.
Nilai kontrak untuk modernisasi sembilan unit pesawat C-130 Hercules ini mencapai sekitar 150 juta dolar AS.
Pengerjaan CWBR dan AUP diproyeksikan akan menambah durasi jam terbang pesawat sekitar 25.000 jam.
- Penulis :
- Arian Mesa








