
Pantau - Sebanyak 40 rumah warga terdampak banjir bandang yang melanda Pasar Maninjau, Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pada Kamis, 1 Januari 2026.
Dampak dan Kronologi Kejadian
Banjir bandang terjadi akibat meluapnya Sungai Muaro Pisang setelah longsor menerjang bagian hulu sungai dan menyebabkan perubahan aliran air.
Material banjir berupa lumpur dan potongan kayu masuk ke dalam rumah-rumah warga, memaksa sekitar 200 orang mengungsi ke mushala, rumah keluarga, serta fasilitas pemerintah setempat.
Hingga saat ini, jumlah rumah terdampak diperkirakan masih bisa bertambah karena aliran air meluas ke daerah lain akibat tersumbatnya jalur sungai oleh longsor.
Masyarakat merasa khawatir karena beberapa kali terdengar dentuman dari arah hulu sungai yang diduga berasal dari pergerakan material longsor, menandakan potensi banjir susulan.
Sejak akhir November 2025, banjir bandang di kawasan ini sudah terjadi lima kali, menunjukkan tingginya risiko bencana berulang di wilayah tersebut.
Penanganan dan Respons Pemerintah
Satu unit alat berat dilaporkan tertimbun material banjir, sementara empat unit lainnya dikerahkan untuk membersihkan jalur provinsi Lubuk Basung–Bukittinggi yang saat ini tidak bisa dilalui karena tertutup lumpur dan kayu.
Bupati Agam, Benni Warlis, menyatakan akan segera melaporkan kejadian ini kepada Gubernur Sumatera Barat dan Balai Wilayah Sungai V untuk penanganan lebih lanjut.
"Fokus utama kami saat ini adalah membuka penyumbatan di hilir sungai agar banjir tidak terus meluas," ungkapnya.
Sementara itu, Anggota DPRD Agam, Albert, mendesak adanya solusi jangka panjang.
"Warga di sepanjang sungai tidak boleh terus hidup dalam ketakutan," ia mengungkapkan.
Situasi ini menegaskan perlunya penanganan berbasis mitigasi risiko dan pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) yang lebih baik untuk mencegah terulangnya bencana serupa.
- Penulis :
- Gerry Eka








