
Pantau - Bantuan sosial yang digulirkan negara dengan tujuan menolong warga rentan dinilai berpotensi menyimpang ketika empati diterjemahkan ke dalam mekanisme proyek yang sarat anggaran, administrasi, dan kepentingan.
Bantuan sosial selama ini selalu hadir dengan narasi kepedulian, kehadiran negara, dan keberpihakan kepada warga yang berada dalam kondisi paling rapuh.
Namun persoalan muncul ketika bantuan tersebut tidak lagi berjalan sebagai respons kemanusiaan, melainkan berubah menjadi proyek dengan skema anggaran, pengadaan, laporan, dan target serapan.
Dalam kondisi itu, bantuan tidak lagi semata tentang siapa yang paling membutuhkan, tetapi juga tentang siapa yang mengelola, mencatat, dan menandatangani.
Jarak antara niat baik dan praktik lapangan pun semakin melebar seiring kepedulian dipaksa mengikuti kalender anggaran dan tabel administrasi.
Seorang pengamat kebijakan publik menilai perubahan ini menciptakan risiko serius bagi integritas pengelolaan bantuan.
"Ketika empati diproyekkan, ia masuk ke dunia anggaran dan kekuasaan yang penuh godaan," ungkapnya.
Bantuan Sosial dan Celah Sistemik
Bantuan sosial lahir dalam relasi timpang antara negara sebagai pemberi dan warga rentan sebagai penerima yang minim daya tawar.
Ketimpangan tersebut seharusnya menuntut kehati-hatian dan standar etika yang lebih tinggi dari aparat pengelola.
Namun dalam praktiknya, standar etika kerap dilonggarkan dengan dalih kecepatan, kondisi darurat, atau kewajiban menyerap anggaran tepat waktu.
Fokus pun bergeser dari pertanyaan apa yang paling dibutuhkan warga menjadi apa yang bisa segera direalisasikan secara administratif.
Kepedulian akhirnya diukur dari jumlah paket yang tercatat, bukan dari dampak nyata yang dirasakan warga.
Kondisi ini menjadikan bantuan sosial sebagai medan yang rawan disalahgunakan.
Penyalahgunaan tersebut bukan semata karena individu jahat, melainkan karena sistem membuka celah.
Proyek bantuan menghadirkan kombinasi dana besar, penerima tanpa posisi tawar, serta pengawasan yang sering melemah.
Dalam kajian administrasi publik, fenomena ini dijelaskan melalui teori principal agent.
Negara bertindak sebagai pemberi mandat, sementara aparat sebagai pelaksana kebijakan di lapangan.
Masalah muncul ketika kepentingan aparat tidak sejalan dengan tujuan negara dan pengawasan tidak berjalan efektif.
Kondisi tersebut membuka peluang penyalahgunaan wewenang secara berulang.
Moral Hazard dan Hilangnya Martabat
Bantuan sosial dan kebencanaan juga dipahami sebagai ladang subur bagi moral hazard.
Aparat menyadari penerima jarang mampu mengadu, publik mudah lupa, dan kasus kerap ditutup dengan istilah oknum.
Risiko yang kecil dengan imbalan besar menciptakan godaan yang kuat.
Budaya proyek memperparah situasi melalui paket, termin, laporan, dan administrasi berlapis yang tampak rapi di atas kertas.
Di lapangan, sistem tersebut justru membuka ruang bagi praktik rent seeking.
Potongan kecil dinormalisasi, mark up disebut penyesuaian, dan data fiktif kerap dibenarkan.
Melalui proses slippery slope, pelanggaran kecil berkembang menjadi penyimpangan sistemik tanpa rasa bersalah.
Warga yang dirugikan bersifat anonim dan tidak mampu menuntut langsung.
Bantuan yang terlambat, berkurang, atau berkualitas buruk sering ditutup dengan dalih teknis.
Secara moral, tanggung jawab menguap di antara tumpukan dokumen.
Masalah terbesar dinilai bukan hanya pada besarnya anggaran, melainkan pada mental aparat yang memandang bantuan sebagai proyek, bukan amanah.
Ironisnya, seluruh penyimpangan tersebut berlangsung atas nama pelayanan publik dan kemanusiaan.
Ketika bantuan diselewengkan, yang runtuh bukan hanya sistem, tetapi juga martabat warga dan martabat negara.
Bagi warga, bantuan yang tidak utuh mengajarkan bahwa menunggu negara berarti menunggu ketidakpastian.
Sementara bagi aparat yang menyelewengkan, bantuan kehilangan makna etik dan berubah menjadi kesempatan.
Para pengamat menegaskan keberhasilan bantuan tidak boleh diukur dari jumlah paket yang dibagikan.
Ukuran keberhasilan bantuan adalah apakah warga kembali bisa berdiri tegak dengan martabatnya.
Tanpa perubahan cara pandang, bantuan sosial hanya akan menjadi ritual musiman yang mengikis nilai kemanusiaan dan meninggalkan luka mendalam.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf
- Editor :
- Tria Dianti







