Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Evakuasi Jenazah Korban Pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung Dihadang Cuaca Ekstrem dan Medan Terjal

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Evakuasi Jenazah Korban Pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung Dihadang Cuaca Ekstrem dan Medan Terjal
Foto: Tim Rescuer SAR gabungan berfoto saat melaksanakan tugas di medan yang sulit untuk pencarian para korban pesawat ATR 42-500 usai kecelakaan menghantam Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan (sumber: Dokumentasi Basarnas Makassar-SAR Gabungan)

Pantau - Tim SAR gabungan berjuang selama 30 jam mengevakuasi jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan.

Evakuasi Berat dengan Teknik Rappeling di Jurang Curam

Evakuasi dilakukan menggunakan teknik rappeling oleh 10 personel gabungan dari Basarnas Makassar, Kopasgat TNI AU, BPBD Kota Makassar, Brimob, Pramuka Peduli, dan Jasdam.

Koordinator SAR Mission Coordinator (SMC), Muhammad Arif Anwar, mengungkapkan bahwa proses penurunan dilakukan di titik jurang dekat dengan lokasi serpihan pesawat ditemukan.

"Tim harus menurunkan tali sekitar 100 meter ke dasar jurang yang berada dekat dengan serpihan pesawat. Proses turun menggunakan tali dan alat descender memakan waktu sekitar dua hingga tiga menit per orang", ungkapnya.

Setelah mencapai dasar jurang, tim menyisir jalur sejauh 200 meter dengan mengikuti celah aliran air dan jejak serpihan pesawat.

Jenazah korban pertama ditemukan pada Sabtu, 18 Januari 2026 pukul 13.43 WITA oleh Rusmadi, rescuer Basarnas Makassar, dalam kondisi tersangkut di dahan pohon.

Proses pembungkusan jenazah berlangsung selama satu jam karena lokasi berada di kemiringan 30 derajat di bibir tebing.

Upaya awal untuk mengangkat jenazah ke atas sejauh 60 meter sempat dilakukan, namun dihentikan karena keterbatasan alat, tenaga, dan hujan deras yang mengguyur lokasi.

"Namun setelah diskusi, tim memutuskan mengubah arah evakuasi ke bawah, menuju kampung terdekat karena medan dinilai lebih memungkinkan untuk proses evakuasi lanjutan", ungkap Muhammad Arif.

Bermalam di Tebing, Jenazah Dikirim Lewat Jalur Darat Menuju Makassar

Evakuasi ke bawah dilakukan selama tiga jam dalam kondisi hujan deras, kabut tebal, dan suhu dingin yang ekstrem.

"Setelah menemukan korban, kondisi medan dan cuaca benar-benar tidak bersahabat. Hujan deras, kabut tebal, dan dingin membuat kami harus bertahan di lereng tebing semalaman sambil menjaga jenazah", ujarnya.

Tim bermalam di lereng tebing yang berbatu dan rawan longsor sambil menjaga jenazah selama 30 jam.

Pada Senin, 19 Januari 2026 siang, tim pertama menyerahkan jenazah kepada tim lanjutan karena faktor keselamatan dan kondisi fisik personel.

"Keselamatan tim tetap menjadi prioritas, sehingga proses evakuasi dilanjutkan oleh tim berikutnya", tegas Muhammad Arif.

Evakuasi berlanjut pada Selasa, 20 Januari 2026 oleh tim kedua menuju area persawahan Kampung Lampeso dengan waktu tempuh 20 jam.

Setelah itu, tim ketiga melanjutkan evakuasi dari Desa Lampeso melalui jalan setapak sejauh 15 kilometer.

Tim kemudian berjalan kaki sejauh 5 kilometer lagi untuk mencapai jalan poros Kecamatan Cenrana.

Rencananya, jenazah akan dibawa ke Posko DVI Biddokes Polda Sulsel di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar untuk proses identifikasi.

Hingga berita ini diturunkan, jenazah pertama masih berada di Kampung Lampeso dan diperkirakan tiba di Makassar pada malam hari.

Selain jenazah laki-laki, tim juga menemukan satu jenazah perempuan yang belum teridentifikasi.

Serpihan pesawat dan barang-barang pribadi milik korban juga ditemukan berserakan di sekitar lokasi jatuhnya pesawat di Gunung Bulusaraung.

Penulis :
Leon Weldrick