
Pantau - Ketua Pimpinan Pusat Fatayat NU, Margaret Aliyatul Maimunah, menegaskan bahwa perempuan Muslim Indonesia harus menjadi arsitek perubahan, bukan sekadar penonton dalam dinamika global.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara Penganugerahan Inspiring Moslem Women (IMW) 2026 yang digelar di Tangerang, Banten, sebagai bagian dari peringatan Harlah Nahdlatul Ulama dan Fatayat NU 2026.
Margaret menyoroti tantangan global yang dihadapi perempuan, seperti ketimpangan ekonomi, akses pendidikan, serta kerentanan terhadap kekerasan berbasis digital.
Menurutnya, perempuan Muslim perlu memiliki tiga kekuatan utama, yakni intelektual, spiritual–moral, serta solidaritas dan kepemimpinan sosial.
Kekuatan intelektual diperlukan agar perempuan mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kekuatan spiritual–moral berfungsi untuk menjaga nilai dan akhlak di tengah arus informasi yang deras.
Sementara kekuatan solidaritas dan kepemimpinan sosial dibutuhkan untuk mengorganisasi kebaikan bagi kemaslahatan bersama.
Fatayat NU sejak awal berdiri telah memosisikan perempuan sebagai subjek pembangunan yang memiliki akses dan kesempatan setara dalam pendidikan, dakwah, ekonomi, sosial, hingga kepemimpinan.
Ajang IMW 2026 dipandang bukan sekadar penghargaan simbolik, tetapi menjadi panggung keteladanan yang menginspirasi perempuan Indonesia.
Penerima Inspiring Moslem Women 2026 berasal dari berbagai bidang, antara lain:
Di bidang seni dan budaya: Sulistyawati (Sulis).
Di bidang dakwah: Ning Umi Laila.
Di bidang wirausaha: Sally Giovani.
Di bidang kepemimpinan: Anggia Ermarini.
Di bidang pendidikan: Amany Lubis.
Di bidang teknologi: Rivana Mezaya.
Di bidang kepedulian sosial dan pemberdayaan masyarakat: Alissa Qotrunnada Wahid.
Untuk kategori pemerhati anak, penghargaan diberikan kepada Margaret Aliyatul Maimunah.
- Penulis :
- Gerry Eka







