Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

UGM dan Institusi Jepang Teken Kemitraan Vokasi, Sakuranesia Dorong Penguatan SDM

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

UGM dan Institusi Jepang Teken Kemitraan Vokasi, Sakuranesia Dorong Penguatan SDM
Foto: (Sumber: Vice President Japan University of Economic Ichiro Matsumoto (ketiga kanan) dan Dekan Sekolah Vokasi Universitas Gajah Mada Prof. Dr. Ing. Ir Agus Maryono (tengah) bersama Pendiri Yayasan Sakuranesia Tovic Rustam (kedua kiri) dan Sakura Ijuin (kiri), serta perwakilan Sanko Gakuen menandatangani kemitraan pendidikan vokasi di Fukuoka, Jepang, beberapa waktu lalu. ANTARA/HO-Yayasan Sakuranesia.)

Pantau - Yayasan Sakuranesia memfasilitasi kerja sama pendidikan vokasi antara Indonesia dan Jepang melalui penandatanganan kemitraan di Jepang guna memperkuat pengembangan sumber daya manusia.

Kerja sama tersebut ditandai dengan kunjungan Dekan Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada Prof. Agus Maryono ke Jepang dalam rangka penjajakan dan penguatan kolaborasi antarinstitusi.

Pendiri Sakuranesia Tovic Rustam menyatakan pihaknya akan terus mendorong kolaborasi yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat kedua negara.

Agenda kunjungan meliputi forum pertukaran pandangan antara institusi pendidikan Indonesia dan Jepang serta penandatanganan kemitraan pendidikan vokasi.

Rangkaian kegiatan juga mencakup peninjauan praktik pendidikan STEAM usia dini di Azalee Group Edogawa dan diskusi dengan Chairman Sanko Gakuen Kazuhiko Hiruma.

Seremoni kemitraan dilaksanakan di Kampus Fukuoka Japan University of Economic yang merupakan bagian dari Tsuzuki Gakuen Group sekaligus menjadi momentum peluncuran pilot project pendidikan vokasi.

Sekolah Vokasi UGM dikenal dengan pendekatan berbasis praktik dan orientasi internasional dengan kewajiban magang atau studi luar negeri pada tahun keempat.

Sekitar 30 persen mahasiswa setiap tahun memperoleh pengalaman internasional sebagai bagian dari kurikulum.

Melalui kemitraan ini mahasiswa Indonesia diharapkan dapat memperluas akses magang industri di Jepang, meningkatkan pemahaman lintas budaya, serta mengembangkan keterampilan praktis sesuai kebutuhan industri global.

Tovic menyebut kemitraan tersebut tidak hanya sebatas pertukaran akademik tetapi juga membangun fondasi persahabatan jangka panjang antara generasi muda Indonesia dan Jepang untuk menopang masa depan masyarakat secara berkelanjutan.

Penulis :
Gerry Eka