Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Kadin Sultra Optimalkan 32 Dapur Mitra SPPG untuk Perluas Program Makan Bergizi Gratis

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Kadin Sultra Optimalkan 32 Dapur Mitra SPPG untuk Perluas Program Makan Bergizi Gratis
Foto: (Sumber: Waketum Kadin Indonesia Erwin Aksa (tengah) didampingi ketua Kadin Sultra Anton Timbang (kiri) saat musprov di Kendari, Sulawesi Tenggara, Sabtu (14/2/2026). ANTARA/La Ode Muh Deden Saputra.)

Pantau - Kamar Dagang dan Industri Indonesia Sulawesi Tenggara mengoptimalkan 32 unit dapur mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi untuk memperluas program Makan Bergizi Gratis di wilayah Bumi Anoa.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan manfaat program MBG segera dirasakan pelajar dan penerima manfaat lain secara merata di Sulawesi Tenggara.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Erwin Aksa menginstruksikan pengurus daerah mempercepat pengoperasian seluruh dapur mitra.

"Saya meminta rekan-rekan Kadin di Sultra untuk berpartisipasi aktif dalam membangun dan mengelola dapur MBG ini," ujarnya.

Kadin menekankan bahan baku makanan harus bersumber dari hasil pertanian, perkebunan, dan UMKM lokal agar program turut menggerakkan ekonomi masyarakat.

Pengusaha lokal didorong menyukseskan pembangunan dapur SPPG terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar.

Ketua Kadin Sultra Anton Timbang menyatakan kesiapan mendukung penuh program strategis pemerintah pusat di daerah.

"Kami akan bersinergi untuk melaksanakan program pemerintah pusat di Sultra," katanya.

Koordinator MBG Kadin Sultra Marwan A Bey menyebut dari 32 dapur mitra, sebanyak 17 unit telah beroperasi sejak 2025 hingga 2026.

Sebanyak 17 dapur tersebut menjangkau sekitar 51.000 penerima manfaat dengan kapasitas satu dapur mampu menyuplai kebutuhan gizi bagi 3.000 orang.

Sebanyak 15 dapur lainnya ditargetkan rampung dan beroperasi pada 2026 dengan sebaran di Kolaka Utara, Kolaka, Kolaka Timur, Kendari, Baubau, Konawe Selatan, Buton Tengah, Muna, dan Muna Barat.

Selama operasional, tidak ditemukan kendala teknis maupun insiden kesehatan karena pengawasan rantai pasok dilakukan ketat serta seluruh dapur mematuhi SOP Badan Gizi Nasional.

Penulis :
Gerry Eka