Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

BGN Dorong Optimalisasi KUR bagi Pekerja Keramba Cirata agar Naik Kelas Jadi Pengusaha Mandiri

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

BGN Dorong Optimalisasi KUR bagi Pekerja Keramba Cirata agar Naik Kelas Jadi Pengusaha Mandiri
Foto: (Sumber: Wakil Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang (kanan) berbincang dengan salah seorang siswa SMK Negeri 1 Jakarta saat meninjau pembagian makan bergizi gratis (MBG) di sekolah tersebut. ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari)

Pantau - Badan Gizi Nasional mendorong pemerintah daerah mengoptimalkan akses kredit usaha rakyat bagi pekerja keramba jaring apung di Waduk Cirata, Jawa Barat, agar mereka dapat naik kelas menjadi pelaku usaha mandiri dan pemasok ikan untuk dapur satuan pelayanan pemenuhan gizi.

Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi Nanik Sudaryati Deyang berharap para pekerja keramba bisa kembali memiliki usaha sendiri melalui dukungan pembiayaan berbunga rendah.

Ia menyatakan, "Bank pemerintah itu boleh menyediakan KUR dengan bunga murah. Mereka ini didaftar, Pak Wabup Bupati, mana yang tidak punya dan mana yang punya (keramba jaring apung sendiri). Pak Wabup hebat kalau bisa mengembalikan mereka menjadi pemilik lagi, menjadi pengusaha,".

Wakil Bupati Purwakarta Abang Ijo Hafidin menjelaskan bahwa pada awalnya keramba jaring apung dimiliki masyarakat setempat.

Ia mengungkapkan, "Setelah dijual, mereka yang semula memiliki keramba ini, kemudian menjadi kulinya,".

Menurutnya, penjualan terjadi saat usaha merugi akibat kematian ikan massal, tingginya harga pakan, serta keterbatasan modal.

Modal Besar dan Risiko Alam

Budi daya ikan dengan sistem keramba jaring apung di Waduk Cirata dan Waduk Jatiluhur dinilai bukan usaha yang mudah.

Petani ikan membutuhkan modal awal sekitar Rp20 juta hingga Rp30 juta untuk setiap siklus budi daya dengan masa panen tiga hingga enam bulan.

Sebagian besar modal tersebut digunakan untuk membeli pakan ikan yang harganya fluktuatif.

Salah seorang pekerja keramba bernama Asep menyampaikan, "Sekarang harga jual dengan harga pakan itu, mahal. Beda jauh. Jadi ada ketimpangan di situ,".

Kendala lain berasal dari faktor alam seperti musim angin dan fenomena upwelling atau pembalikan massa air saat pergantian musim.

Asep menjelaskan, "Kalau ada balikan air seperti itu, ikan-ikan mati semua, dan kami rugi,".

Endapan sisa pakan dan kandungan sulfur oksida di dasar waduk dapat terangkat ke permukaan dan meracuni ikan dalam keramba.

Jumlah Keramba Lampaui Daya Dukung

Pada pertengahan 2025, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Barat mencatat terdapat 86.437 unit keramba jaring apung di Waduk Cirata.

Jumlah tersebut dinilai melampaui daya dukung waduk dan berkontribusi terhadap pencemaran perairan.

Berdasarkan perhitungan daya dukung lingkungan, jumlah keramba yang sesuai dan berkelanjutan adalah 21.792 unit.

Terkait program makan bergizi gratis, Asep menyampaikan kedua anaknya yang bersekolah dasar telah menerima manfaat program tersebut.

Ia menyatakan, “Jadi di sini (program MBG) memotivasi anak-anak. Kalau nggak sekolah, (mereka) nggak dapat MBG. Jadi mereka semangat sekolah karena MBG,”

Penulis :
Gerry Eka