
Pantau - Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menyatakan keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) di tengah konflik Timur Tengah memberikan dampak psikologis positif bagi masyarakat serta meredam rumor yang sempat beredar di media sosial.
Ia mengatakan penegasan tersebut disampaikan oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi pada Selasa (31/3) setelah pemerintah melakukan koordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan PT Pertamina sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
“Dampak psikologis dari keputusan pemerintah untuk mempertahankan harga BBM secara keseluruhan sangat positif. Keputusan ini menihilkan berbagai rumor yang beredar di media sosial beberapa hari ini yang meresahkan masyarakat, sehingga di sejumlah SPBU terjadi antrean untuk mengisi BBM,” ungkap Eddy.
Ia menilai Presiden Prabowo Subianto telah berupaya mencari solusi agar fluktuasi harga minyak mentah global tidak berdampak pada daya beli masyarakat, khususnya konsumen BBM di dalam negeri.
Waspadai Persaingan Pasokan Energi Global
Eddy mengingatkan pemerintah agar tetap sigap menjaga pasokan energi nasional karena komoditas minyak dan gas bumi saat ini menjadi sumber energi yang diperebutkan banyak negara.
Ia menjelaskan sejumlah negara pengimpor BBM besar seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan akan mencari sumber pasokan alternatif di tengah ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah.
“Apalagi India, Jepang, dan Korea sangat menggantungkan kebutuhan energinya dari jalur impor, bahkan di atas 70 persen. Akibatnya, Indonesia akan saling sikut dengan negara lain untuk mengamankan pasokan energinya masing-masing,” tuturnya.
Menurut dia, kondisi tersebut pernah terjadi pada masa pandemi COVID-19 ketika vaksin yang produksinya terbatas menjadi komoditas yang diperebutkan berbagai negara di dunia.
“Cerita yang sama bisa saja terulang untuk BBM karena seluruh negara di dunia berupaya keras menghindari krisis energi yang dapat mematikan roda perekonomian dan menimbulkan keresahan sosial,” katanya.
“Oleh karenanya, saya berharap kita memiliki pasokan impor migas yang dapat diandalkan, mengingat reliability of supply (keandalan pasokan) saat ini lebih penting dari avaliability of supply (ketersediaan pasokan),” sambung Eddy.
Momentum Perkuat Ketahanan Energi Nasional
Eddy menilai situasi krisis energi global dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi nasional melalui percepatan transisi energi.
Ia menyebut langkah yang dapat dilakukan antara lain konservasi energi, elektrifikasi, serta de-dieselisasi pembangkit listrik guna mengurangi ketergantungan terhadap energi impor.
“Selain mereduksi ketergantungan kita pada energi yang diimpor, Indonesia juga akan mengoptimalkan potensi energi bersih dan terbarukan yang kita miliki secara melimpah di dalam negeri,” demikian Eddy.
Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi memastikan harga BBM baik subsidi maupun non-subsidi tidak mengalami kenaikan setelah pemerintah berkoordinasi dengan Kementerian ESDM dan PT Pertamina.
“Bapak Presiden selalu mengedepankan kepentingan rakyat dan kepentingan masyarakat di dalam mengambil sebuah keputusan. Oleh karena itulah, Pertamina menyatakan bahwa Pertamina belum akan melakukan penyesuaian harga baik untuk BBM subsidi maupun BBM non-subsidi,” kata Prasetyo.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf









