
Pantau - Artikel berjudul Ketika dialog tak selalu diekspos: Prabowo dan dialog deliberatif yang ditulis Dr Ramadhan Pohan MIS membahas persepsi publik terhadap Presiden Prabowo Subianto terkait keterbukaan terhadap kritik dan proses dialog dalam pengambilan kebijakan.
Sebagian publik menilai Prabowo sebagai presiden yang antikritik, memutuskan segala sesuatu sendiri, dan tidak mau mendengar masukan akademisi atau ahli.
Ada pula anggapan bahwa kebijakan yang muncul bersifat reaktif karena baru direvisi setelah suatu kasus menjadi viral di ruang publik.
Di panggung depan, kesan yang terlihat di media seolah-olah Prabowo tidak banyak berdialog dengan akademisi maupun tokoh agama karena jarangnya sorotan terhadap pertemuan tersebut.
Namun penulis menegaskan bahwa Prabowo sesungguhnya aktif berdiskusi dan berdialog dengan berbagai pihak termasuk kalangan aktivis politik meskipun tidak selalu diekspos ke publik.
Setelah menandatangani persetujuan bergabung dengan Board of Peace, Presiden disebut mengundang tokoh-tokoh organisasi masyarakat agama ke Istana untuk berdiskusi.
Presiden juga berdialog dengan para mantan Menteri Luar Negeri guna mendengar langsung masukan terkait arah kebijakan luar negeri.
Dalam konstruksi Teori Dramaturgi Erving Goffman, sikap yang ditampilkan di depan publik disebut sebagai panggung depan yang menuntut ketegasan dan stabilitas seorang pemimpin.
Seorang presiden dinilai membutuhkan ketepatan dan kecepatan dalam mengambil keputusan serta harus terlihat stabil di hadapan publik dan dunia internasional.
Jika setiap keputusan selalu diawali dialog terbuka, dunia internasional dapat menilai Indonesia dipimpin presiden yang tidak memiliki prinsip tegas.
Citra dialogis yang terlalu ditonjolkan dikhawatirkan dapat melemahkan posisi Indonesia sebagai mitra strategis di kancah global.
Dalam perspektif Goffman, panggung belakang merupakan ruang persiapan sebelum tampil di panggung depan dan tidak selalu perlu diumbar ke publik.
Di panggung belakang itulah proses komunikasi kepresidenan dan perumusan kebijakan teknokratis berlangsung termasuk pencarian second opinion dari tokoh masyarakat serta akademisi.
Sebagian proses tersebut dinilai luput dari pemberitaan media sehingga publik kerap memberi label bahwa Presiden menutup ruang kritik.
Latar belakang Prabowo sebagai mantan Komandan Kopassus TNI Angkatan Darat membentuk gaya komunikasi yang tegas dan berkarakter komando.
Gaya komunikasi ala militer tersebut masih terlihat dalam konferensi pers termasuk ketika memberikan instruksi tegas kepada para menteri sehingga di mata sebagian orang awam kerap dipersepsikan sebagai otoriter.
Namun di panggung belakang, Presiden dinilai banyak mendengarkan masukan sebelum mengambil kebijakan yang menunjukkan adanya transformasi identitas dari figur militer menjadi pemimpin yang mengadopsi pendekatan deliberatif dalam pengambilan keputusan.
- Penulis :
- Aditya Yohan








