
Pantau - Dokter mengingatkan pentingnya deteksi dini untuk mencegah dampak fatal infeksi virus Nipah seiring meningkatnya mobilitas lintas negara sebagaimana dimuat Sabtu, 21 Februari 2026 pukul 11:11 WIB.
Dokter spesialis penyakit dalam Bethsaida Hospital Gading Serpong dr. Timoteus Richard, Sp.PD menyatakan, "Penyakit infeksi dengan fatalitas tinggi seperti Virus Nipah menuntut kewaspadaan sejak gejala awal,".
"Semakin cepat dikenali, semakin besar peluang pasien mendapatkan penanganan yang optimal," katanya.
Virus Nipah merupakan virus RNA dari kelompok Paramyxovirus yang pertama kali diidentifikasi pada 1999 di Malaysia dan Singapura terutama di peternakan babi.
Kelelawar pemakan buah menjadi reservoir alami virus tersebut dan dapat menularkannya ke manusia melalui perantara hewan seperti babi.
Infeksi virus Nipah dapat menyerang saluran pernapasan dan sistem saraf serta berisiko menyebabkan gangguan berat hingga kematian.
Hingga kini belum tersedia vaksin maupun antivirus spesifik untuk penyakit tersebut sehingga penanganan bersifat suportif.
Gejala awal infeksi kerap menyerupai infeksi umum dan biasanya muncul dalam lima hingga 14 hari setelah paparan.
Gejala tersebut meliputi demam tinggi mendadak, sakit kepala berat, nyeri otot, mual, muntah, dan tubuh lemas.
Pada kondisi berat pasien dapat mengalami batuk, sesak napas, gangguan pernapasan akut, penurunan kesadaran, kejang, hingga radang otak atau ensefalitis.
Jika pasien mengalami penurunan kesadaran atau gangguan napas maka harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis.
Penularan virus Nipah berpotensi terjadi di Indonesia karena adanya habitat kelelawar buah serta mobilitas orang dari negara yang pernah melaporkan kasus seperti India dan Bangladesh.
Kesiapan layanan kesehatan, deteksi dini, serta edukasi berkelanjutan kepada masyarakat dinilai sangat penting untuk mencegah dampak luas infeksi di tengah peningkatan mobilitas global.
- Penulis :
- Aditya Yohan







