Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Peneliti RS Pertanian Unud Temukan 41 Senyawa Hidrokarbon Cemari Tanah Mangrove Benoa

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Peneliti RS Pertanian Unud Temukan 41 Senyawa Hidrokarbon Cemari Tanah Mangrove Benoa
Foto: (Sumber : Arsip foto - Tim Peneliti Rumah Sakit Pertanian Universitas Udayana (Unud) menguji sampel tanah mangrove di Benoa, Denpasar, Bali, Kamis (26/2/2026). ANTARA/HO-Peneliti RS Pertanian Unud.)

Pantau - Tim Peneliti Rumah Sakit Pertanian Universitas Udayana menemukan 41 senyawa hidrokarbon atau minyak bumi dalam sampel tanah mangrove di Benoa, Denpasar, Bali, yang mengindikasikan pencemaran limbah bahan bakar minyak jenis diesel.

Koordinator Tim Peneliti Dr Dewa Gede Wiryangga Selangga menyatakan, “Dapat kami simpulkan bahwa sampel tanah mangrove positif tercemar oleh limbah minyak bumi, terutama diesel (solar),” kata Dewa Gede Wiryangga Selangga di Denpasar, Jumat.

Pengujian dilakukan pada 24-26 Februari menggunakan metode analisis Gas Chromatography-Mass Spectrometry untuk mengidentifikasi dan menentukan komposisi senyawa kimia dalam sampel, terutama senyawa volatil atau semi volatil.

Dari sampel tanah di kawasan terdampak di sisi barat gerbang Tol Bali Mandara Benoa ditemukan 45 senyawa volatil dengan 41 di antaranya merupakan senyawa hidrokarbon.

Senyawa hidrokarbon yang terdeteksi umumnya ditemukan pada BBM seperti bensin, minyak tanah, dan diesel atau solar.

Senyawa dengan nilai persentase di atas lima persen meliputi n-Hexadecane sebesar 5,79 persen, n-Heptadecane 7,65 persen, Pentadecane, 2,6,10-trimethyl 7,27 persen, Pentadecane, 2,6,10,14,-trimethyl 8,67 persen, dan n-Eicosane 5,42 persen.

Senyawa hidrokarbon dominan berada pada rentang atom C15-C24 yang mengarah kuat pada kontaminasi diesel atau solar.

Pada sampel air hanya ditemukan satu senyawa dari golongan hidrokarbon organik yaitu squalene yang umumnya ditemukan pada hati ikan hiu, beberapa alga, dan mikroorganisme Escherichia coli.

“Sehingga tidak ditemukan senyawa pencemar hidrokarbon pada sampel air yang diuji,” imbuhnya.

Peneliti menyebut senyawa hidrokarbon tidak ditemukan pada sampel air karena telah dilakukan pembersihan sehingga kontaminasi minyak berpindah ke daerah laut dan mengendap di tanah.

Senyawa hidrokarbon dari bahan bakar tersebut mengendap dan terakumulasi di tanah sehingga tanaman mangrove kesulitan menyerap air dan mineral.

“Akibatnya, lama kelamaan minyak akan diserap oleh tanaman dan masuk ke jaringan kambium, sel tanaman menjadi rusak, daun menguning, gugur, tanaman menjadi kering dan mati,” ucapnya.

Tanaman mangrove terdampak berada pada luas lahan sekitar 6 hingga 60 are atau 600 hingga 6.000 meter persegi yang mencakup area intensif hingga area sebaran terdampak.

Tim peneliti selain Dewa Gede Wiryangga Selangga terdiri atas Dr Listihani, Ni Nyoman Sista Jayasanti, Restiana Maulinda, Wafa’ Nur Hanifah, dan Yuli Evrianti Br Raja Gukguk.

Penulis :
Aditya Yohan