Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Komisi X DPR Desak BRIN Atasi Krisis Air Bersih di Lokasi Bencana Tegal

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Komisi X DPR Desak BRIN Atasi Krisis Air Bersih di Lokasi Bencana Tegal
Foto: (Sumber : Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, dalam Kunjungan Kerja (Kunker) Reses Komisi X DPR RI di Gedung Setda Kabupaten Semarang, Ungaran, Senin (2/3/2026). Foto: Gal/Karisma.)

Pantau - Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih mendesak Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) segera mengatasi krisis air bersih di lokasi bencana tanah bergerak di Padasari, Jatinegara, Kabupaten Tegal.

Desakan tersebut disampaikan Fikri saat Kunjungan Kerja Reses Komisi X DPR RI di Gedung Setda Kabupaten Semarang, Ungaran, setelah menerima laporan mengenai kebutuhan mendesak air bersih di area pembangunan hunian sementara korban bencana.

Fikri yang meninjau lokasi bersama Ketua MPR RI mendapat informasi dari Kementerian Pekerjaan Umum terkait minimnya sumber air di kawasan tersebut.

Ia kemudian menghubungi Kepala BRIN Arif Satria untuk meminta bantuan penyediaan mesin Air Siap Minum (Arsinum).

Namun, seluruh stok mesin Arsinum saat ini telah dikirim ke Aceh sehingga wilayah Padasari masih menunggu penyelesaian produksi mesin penjernih air mobile buatan BRIN yang berkapasitas 10.000 liter per hari dan mampu mengolah air keruh maupun berlumpur menjadi air siap minum sesuai standar Kementerian Kesehatan.

“Mengingat kebutuhan air bersih tidak bisa ditunda, kami berharap ada pengingat untuk BRIN mungkin melalui pemerintah provinsi agar masalah ini segera diatasi. Mesin Arsinum ini sangat fleksibel karena sumber airnya bisa dari mana saja, termasuk memurnikan air sungai yang keruh,” ujar Fikri.

Selain persoalan air bersih, Fikri juga menyoroti kondisi industri logam lokal di Tegal yang disebutnya mengalami mati suri, dengan sekitar 70 hingga 80 persen industri rumahan berhenti berproduksi.

Padahal, wilayah tersebut pernah dijuluki sebagai “Jepangnya Indonesia” karena kualitas produk logamnya.

Ia menilai lumpuhnya industri tersebut dipicu minimnya pendampingan riset ilmu bahan sehingga perajin lokal kalah bersaing di era modern. Kondisi serupa juga disebut mengancam sentra industri di Purbalingga, Boyolali, dan Klaten.

Menurutnya, sejumlah produk berkualitas tinggi buatan Tegal seperti suku cadang kendaraan hingga komponen transmisi infrastruktur BUMN, termasuk SUTET, klem, dan isolator, justru dipasarkan menggunakan merek perusahaan besar pemenang proyek.

“Saat ini, industri tersebut sedang dalam kondisi kritis. Jika tidak ada sentuhan atau intervensi dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi, maupun kabupaten/kota, industri ini akan benar-benar mati,” tegasnya.

Fikri memastikan seluruh aspirasi daerah akan dirumuskan secara tertulis dan diteruskan kepada Panitia Kerja DPR RI, termasuk mendorong peninjauan kembali regulasi terkait guna memberikan perlindungan lebih kuat bagi keberlangsungan industri lokal sebagai bagian dari fungsi pengawasan DPR RI.

Penulis :
Aditya Yohan