
Pantau - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengimbau elite bangsa menjadi teladan dalam menjaga persatuan di tengah perbedaan penetapan Idul Fitri 1447 Hijriah.
Seruan Menahan Diri dan Jaga Persatuan
Imbauan tersebut disampaikan Haedar saat menyampaikan khutbah Shalat Idul Fitri di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada Jumat.
“Tidak perlu kita mempertajam perbedaan, apalagi mencari pembenaran diri dengan menyalahkan pihak lain. Baik dalam konteks kewargaan maupun pemerintahan, semua pihak harus menahan diri,” ungkap Haedar.
Ia mengajak tokoh agama dan elite bangsa untuk menghindari pernyataan yang dapat memperkeruh suasana di tengah masyarakat.
Menurutnya, Idul Fitri harus dijalani dengan kekhusyukan ibadah serta kejernihan jiwa dan pikiran.
Harapan Kesatuan dan Kalender Islam Global
Haedar menekankan pentingnya menyikapi perbedaan waktu perayaan Idul Fitri secara bijak tanpa memicu konflik sosial.
“Jalani Idul Fitri dengan khusyuk, baik yang merayakan pada 20 maupun 21 Maret, bahkan yang lebih dahulu, agar kita tidak terjebak dalam hasrat perbedaan yang justru meretakkan persatuan,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan optimisme bahwa masyarakat Indonesia memiliki kedewasaan dalam menyikapi perbedaan tersebut.
Selain itu, Haedar berharap ke depan dunia Islam dapat memiliki kalender global tunggal untuk meminimalisasi perbedaan penetapan hari besar keagamaan.
“Ke depan, insyaallah perbedaan itu dapat diminimalisasi, jika ada keterbukaan hati dan pikiran, serta didasarkan pada ilmu pengetahuan yang tinggi,” ucapnya.
Haedar menegaskan bahwa elite bangsa harus menjadi teladan dalam menciptakan persatuan, toleransi, dan kemajuan di tengah berbagai tantangan yang dihadapi bangsa.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







