
Pantau - Umat Muslim di Bali menggaungkan semangat moderasi beragama saat pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1447 Hijriah di Lapangan Lumintang, Denpasar, yang diikuti ribuan jamaah.
Pesan Moderasi dalam Khutbah Idul Fitri
Khatib Shalat Id, Masrur, menekankan pentingnya menjaga keseimbangan hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia dalam kehidupan bermasyarakat yang majemuk.
Ia mengatakan, “Ini tentang bagaimana kita hidup bermasyarakat yang majemuk, tadi disampaikan tentang moderasi beragama jadi kita bukan hanya hablun minallah atau artinya kita hanya menyembah Allah saja,”.
Ia juga menegaskan pentingnya hablun minannas atau menjaga hubungan baik dengan sesama manusia.
Masrur menyebut Bali sebagai ikon moderasi beragama yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Ia menambahkan, “Bali ini kan sebagai ikon sebenarnya moderasi beragama, yang selama ini sudah berjalan berabad-abad, jadi kita pertahankan jangan sampai ada kelompok-kelompok tertentu yang kemudian menimbulkan konflik karena dengan alasan agama, karena agama sudah jelas ajarannya, yaitu hablun minallah, hablun minannas,”.
Kolaborasi Lintas Komunitas dan Antusiasme Jamaah
Pelaksanaan Shalat Id di Lapangan Lumintang juga menunjukkan praktik nyata moderasi beragama melalui keterlibatan pecalang yang membantu pengamanan bersama aparat kepolisian.
Kehadiran pecalang mencerminkan kerja sama lintas komunitas dalam menjaga ketertiban selama ibadah berlangsung.
Jumlah jamaah terus meningkat setiap tahun, dan pada tahun ini diperkirakan sekitar 5.000 umat Muslim memadati lokasi tersebut.
Panitia pelaksana telah melakukan koordinasi dengan baik sehingga kegiatan berlangsung lancar.
Pelaksanaan Idul Fitri tahun ini juga tidak berbenturan dengan Hari Raya Nyepi sehingga persiapan dapat dilakukan secara optimal.
Peningkatan jumlah jamaah dipengaruhi oleh rasa damai yang dirasakan umat Muslim yang tinggal atau menetap di Bali.
Lapangan Lumintang yang berada dekat kawasan Kampung Muslim menjadi salah satu pusat pelaksanaan Shalat Id di Denpasar.
Setelah pelaksanaan Shalat Id, umat Muslim melanjutkan kegiatan dengan bersilaturahmi bersama keluarga dan kerabat.
Salah satu jamaah, Valentina Septa, mengungkapkan pengalamannya, “Saya dari Belanda tapi dulu lahir di Indonesia, setengah tahun terakhir balik ke Bali, di sini Ramadhan dan shalat panas tapi tetap terkoneksi dengan Tuhan karena suasananya lebih bagus di sini banyak Muslim, sedangkan di Belanda semua sendiri-sendiri,”.
- Penulis :
- Aditya Yohan








