
Pantau - Suasana perayaan Idul Fitri 2026 di Hutanabolon, Kabupaten Tapanuli Tengah berlangsung hening pascabencana banjir bandang yang melanda wilayah tersebut.
Lebaran dalam Bayang-Bayang Bencana
Lingkungan desa dipenuhi lumpur dan pasir menggantikan suasana meriah khas Lebaran.
Pintu rumah warga tertutup dan aktivitas silaturahmi hampir tidak terlihat dengan jalanan yang tampak lengang.
“Ya beginilah Lebaran kita kali ini apa adanya saja,” ungkap Rasokki Panggabean.
Sebanyak 197 kepala keluarga terdampak bencana yang terjadi pada akhir November 2025.
Tradisi Lebaran seperti memasak lemang dan membuat kue kering tidak lagi dilakukan.
“Biasanya memang buat lemang. Kali ini kami tidak membuatnya karena kondisi juga kan. Jadi tidak terpikir lagi untuk membuat kue kue seperti itu,” ungkapnya.
Bencana tidak hanya merusak lingkungan fisik tetapi juga mengubah kebiasaan sosial masyarakat.
Harapan Pemulihan dan Ketahanan Warga
Banyak perantau memilih tidak pulang karena kondisi desa yang belum pulih.
“Yang biasanya ramai sekarang ya sepi. Saudara dari tanah rantau juga tidak berani datang ke Hutanabolon saat ini,” ungkap Rasokki.
Warga kehilangan sumber penghasilan akibat rusaknya lahan pertanian.
Sebagian beralih pekerjaan menjadi buruh atau membuka usaha kecil seperti warung kelontong untuk bertahan hidup.
“Sekarang ya berharap dari panggilan kerja saja. Kalau ada teman yang minta bantu bangun rumah atau kerja apa saja saya terima,” ungkapnya.
Warga berharap pemerintah segera mempercepat pemulihan terutama perbaikan tanggul Sungai Tukka.
“Ya semoga desa kami ini cepat pulih dibantu oleh pemerintah,” ungkap Obadia Lase.
Lebaran tahun ini berlangsung sederhana tanpa kemewahan namun penuh makna kesabaran dan harapan bagi masyarakat.
- Penulis :
- Gerry Eka








