Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Strategi Baru Pariwisata Indonesia Alihkan Fokus ke Asia di Tengah Dampak Konflik Timur Tengah

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Strategi Baru Pariwisata Indonesia Alihkan Fokus ke Asia di Tengah Dampak Konflik Timur Tengah
Foto: Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini bahas strategi jangka pendek gaet pasar Asia di Badung, Bali, Senin 30/3/2026 (sumber: ANTARA/Ni Putu Putri Muliantari)

Pantau - Kementerian Pariwisata memprioritaskan pasar Asia sebagai strategi jangka pendek untuk menjaga stabilitas sektor pariwisata di tengah konflik Timur Tengah yang berdampak pada jalur penerbangan global.

Kebijakan ini disampaikan dalam konferensi pers Bali Beyond Travel Fair 2026 di Kabupaten Badung pada Senin, 30 Maret 2026 oleh Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini.

Ia mengungkapkan, "Untuk ASEAN yang paling prioritas itu Malaysia dan Singapura kemudian yang naik itu Filipina, Vietnam, Thailand, yang kedua Asia Timur jadi China, Jepang, dan Korea itu prioritasnya, kemudian Oceania itu Australia, Asia Selatan India, itu yang kita prioritaskan jangka pendek saat ini."

Fokus Pasar Asia Jadi Prioritas Utama

Pasar ASEAN menjadi fokus utama dengan Malaysia dan Singapura sebagai target terbesar.

Sementara itu, Filipina, Vietnam, dan Thailand menunjukkan peningkatan potensi kunjungan wisatawan.

Untuk kawasan Asia Timur, pemerintah membidik China, Jepang, dan Korea sebagai pasar strategis.

Di kawasan Oceania, Australia menjadi prioritas, sedangkan India menjadi fokus utama di Asia Selatan.

Perubahan strategi ini dilakukan dengan mengalihkan perhatian dari pasar jarak jauh seperti Eropa dan Amerika ke kawasan Asia.

Langkah tersebut diambil untuk menjaga kinerja sektor pariwisata di tengah kondisi global yang tidak menentu.

Target Wisatawan dan Penyesuaian Anggaran

Kementerian Pariwisata menargetkan 16 hingga 17 juta wisatawan mancanegara pada tahun 2026.

Target ini meningkat dibandingkan capaian tahun 2025 yang mencapai 15,4 juta wisatawan.

Marthini menjelaskan, "Karena kita ada jumlah target bagaimana caranya, jadi kita sudah menghitung itu, dari Amerika dan Eropa dibebankan ke Asia, termasuk anggarannya kita ubah juga, itu harus dihitung untuk mendapatkan angka atau target di situ."

Penyesuaian strategi juga mencakup perubahan alokasi anggaran pemasaran ke kawasan Asia.

Pemerintah tetap mempertahankan pasar Eropa dan Amerika tanpa menaikkan atau menurunkan target kunjungan.

Antisipasi Dampak Konflik dan Tantangan Konektivitas

Konflik di Timur Tengah diperkirakan berdampak pada kunjungan wisatawan Eropa akibat terganggunya jalur transit penerbangan.

Risiko pembatalan perjalanan wisatawan dari kawasan tersebut menjadi salah satu faktor yang diantisipasi pemerintah.

Wisatawan jarak jauh yang tetap datang diperkirakan berasal dari segmen kelas atas dengan rute alternatif.

Ia mengatakan, "Wisman jarak jauh ini akan tetap liburan apalagi musim panas akan tiba, segmennya kelas atas, ini tetap kita jaga tapi prioritas kita sekarang menggaet Asia juga dilakukan oleh hampir semua pesaing."

Kementerian Pariwisata juga memperhitungkan dampak kenaikan harga tiket akibat peningkatan harga avtur serta gangguan penerbangan.

Ia menambahkan, "Kalau ditanya apakah percaya diri, harus, karena modal untuk industri pariwisata percaya diri namun realistis, hitung data, pesawat terdampak berapa, harga tiket yang meningkat dengan avtur meningkat seperti apa, makanya kita punya strategi jangka pendek, jangka menengah, jangka panjang."

Pemerintah kini berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan untuk memastikan konektivitas penerbangan tetap terjaga tanpa bergantung pada jalur Timur Tengah.

Upaya tersebut juga dilakukan untuk mendukung promosi pariwisata ke negara-negara tetangga.

Penulis :
Leon Weldrick