
Pantau - Asosiasi Agen Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Bali membidik potensi wisatawan mancanegara asal Kazakhstan dan Uzbekistan sebagai pasar baru di tengah dinamika konflik Timur Tengah pada 31 Maret 2026 di Badung, Bali.
Potensi Besar Wisman Asia Tengah
Ketua Asita Bali I Putu Winastra menyatakan kawasan Asia Tengah memiliki peluang besar untuk meningkatkan kunjungan wisata ke Bali.
Ia mengatakan, "Beberapa negara di Asia sebenarnya potensinya masih banyak datang ke Bali, Asia Tengah seperti Kazakhstan dan Uzbekistan memiliki potensi sangat besar, kebetulan saya jadi Konsul Kehormatan Kazakhstan, potensinya sangat luar biasa."
Winastra mengungkapkan sekitar 300 ribu wisatawan Kazakhstan setiap tahun berlibur ke Thailand dan Vietnam, sementara ke Bali baru mencapai sekitar 20 ribu kunjungan.
Menurutnya, kondisi geopolitik di Timur Tengah justru membuka peluang bagi Indonesia untuk menarik wisatawan dari kawasan yang relatif aman seperti Asia Tengah.
Kendala Konektivitas Jadi Tantangan Utama
Asita Bali menilai tantangan utama dalam menggarap pasar ini adalah belum adanya penerbangan langsung dari Asia Tengah ke Bali.
Ia mengungkapkan, "Ini harapannya, maka kami selalu koordinasi dengan kementerian agar ceruk pasar potensial ini bisa benar-benar dijajaki dan ada penerbangan langsung atau paling tidak penerbangan komersil yang kesana."
Upaya penjajakan dilakukan bersama Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Pariwisata untuk membuka akses penerbangan, termasuk opsi penerbangan carter sebagai tahap awal.
Winastra menambahkan, "Jadi penerbangan carter dulu kalau memang ini bagus baru nanti lanjut kan maskapai itu bisnis tidak mau rugi, kalau turnover-nya tidak bagus, mereka tidak akan lakukan, ini maskapainya dari Kazakhstan."
Wisatawan Kazakhstan diketahui memiliki karakteristik tinggal lebih lama, sekitar 10 hingga 14 hari, serta cenderung memilih hotel berbintang, sehingga dinilai potensial meningkatkan devisa pariwisata Indonesia.
- Penulis :
- Aditya Yohan








