Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Ekonom Prediksi Inflasi Maret 2026 Naik Tipis akibat Ramadan dan Gejolak Global

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Ekonom Prediksi Inflasi Maret 2026 Naik Tipis akibat Ramadan dan Gejolak Global
Foto: (Sumber : Warga membawa sembako yang dibeli saat Pasar Murah Ramadhan 2026 di LApangan TGP Margoluwih, Seyegan, Sleman, D.I Yogyakarta, Kamis (5/3/2026). Pasar murah yang digelar Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman dan digelar di 6 titik hingga 10 Maret 2026 itu untuk menyediakan komoditas kebutuhan pokok dengan harga relatif terjangkau bagi masyarakat serta menekan inflasi yang biasa terjadi menjelang Hari Raya Idul Fitri. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/foc.)

Pantau - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memproyeksikan tingkat inflasi pada Maret 2026 berpotensi lebih tinggi dibandingkan rata-rata, namun masih berada dalam kisaran target pemerintah.

Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengatakan kenaikan inflasi tersebut dipicu oleh peningkatan harga komoditas pangan dan energi, seiring meningkatnya permintaan selama Ramadan dan Idul Fitri serta dampak konflik geopolitik global.

“Karena ada efek Ramadan dan Lebaran, terus konflik geopolitik, (tingkat inflasi pada Maret 2026) ini sedikit lebih tinggi, tetapi masih dalam koridor (target pemerintah sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen) itu,” ucap Esther Sri Astuti saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Selasa.

Tiga Faktor Pendorong Inflasi

Esther menjelaskan terdapat tiga jenis inflasi yang berpotensi mendorong kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Maret 2026.

Ia menyebutkan ketiga faktor tersebut yakni demand-pull inflation, cost-push inflation, dan imported inflation.

Menurutnya, demand-pull inflation terjadi karena peningkatan permintaan barang dan jasa selama Ramadan dan Lebaran dibandingkan periode normal.

Sementara cost-push inflation muncul akibat kenaikan biaya produksi yang dipicu oleh peningkatan harga bahan bakar minyak (BBM) sehingga berdampak pada biaya transportasi dan logistik.

“Ditambah lagi ini karena ada konflik geopolitik, jadi itu namanya imported inflation. Jadi, inflasi yang terjadi karena inflasi yang terjadi dari luar (negeri), bahan bakar susah (akibat perang di Timur Tengah), sehingga yang terjadi di luar itu menaikkan harga barang di Indonesia,” ujar Esther.

BPS Akan Umumkan Data Inflasi

Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan mengumumkan laporan resmi inflasi Maret 2026 pada Rabu pukul 11.00 WIB.

Sebelumnya, inflasi tahunan Indonesia tercatat sebesar 3,55 persen secara year-on-year pada Januari 2026 dan meningkat menjadi 4,76 persen pada Februari 2026.

Sementara itu, PT Pertamina (Persero) sebelumnya mengumumkan penyesuaian harga bahan bakar minyak nonsubsidi mulai 1 Maret 2026.

Di wilayah Jabodetabek, harga BBM jenis Pertamax (RON 92) naik menjadi Rp12.300 per liter dari sebelumnya Rp11.800 per liter.

Pertamax Green (RON 95) juga mengalami kenaikan menjadi Rp12.900 per liter dari Rp12.450 per liter pada Februari 2026.

Penulis :
Aditya Yohan