
Pantau - Dinas Kesehatan Kota Batam meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit campak melalui pemantauan rutin dan langkah cepat pencegahan guna menghindari lonjakan kasus pada 2026.
Kepala Dinkes Batam Didi Kusmarjadi mengatakan hasil pemantauan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) menunjukkan belum terjadi lonjakan signifikan, namun tetap terdapat sinyal kewaspadaan di sejumlah wilayah.
“Berdasarkan SKDR, hingga saat ini tidak terdapat peningkatan signifikan yang mengarah pada Kejadian Luar Biasa (KLB). Namun perlu respons cepat untuk mencegah penularan lebih luas,” ungkapnya.
Ia menyebut selama 12 minggu pertama 2026 tercatat 278 kasus campak dengan puncak terjadi pada awal Januari sebanyak 44 kasus, sementara tren menurun pada akhir Maret.
Pemantauan Ketat dan Respons Cepat
Dinkes Batam memperkuat pemantauan mingguan melalui SKDR serta melakukan verifikasi cepat terhadap setiap sinyal kasus.
Selain itu, penyelidikan epidemiologi dilakukan dalam waktu kurang dari 24 jam terhadap setiap kasus suspek.
Kewaspadaan juga ditingkatkan di seluruh fasilitas kesehatan seperti puskesmas, klinik, dan rumah sakit.
“Kami juga menggencarkan sweeping serta imunisasi kejar bagi anak-anak yang belum melengkapi imunisasi,” ujar Didi.
Capaian Imunisasi Masih Rendah
Didi mengungkapkan cakupan imunisasi campak-rubella (MR) di Batam masih belum mencapai target yang ditetapkan.
Data menunjukkan imunisasi MR usia 9 bulan baru mencapai 16,7 persen, sementara imunisasi lanjutan sebesar 15,7 persen di 12 kecamatan.
“Kendala utama masih adanya penolakan dari sebagian orang tua terkait vaksinasi," katanya.
Dinkes Batam mengimbau masyarakat untuk mewaspadai gejala campak seperti demam dan ruam serta segera memeriksakan anak ke fasilitas kesehatan.
“Campak sangat mudah menular dan berisiko serius pada anak. Dengan imunisasi lengkap dan kewaspadaan bersama, kita bisa mencegah penyebarannya,” tutupnya.
- Penulis :
- Aditya Yohan








