Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Makassar, Gowa, dan Maros Kolaborasi Olah Sampah Jadi Listrik, Targetkan 25 MW Energi

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Makassar, Gowa, dan Maros Kolaborasi Olah Sampah Jadi Listrik, Targetkan 25 MW Energi
Foto: (Sumber: Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq bersama Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman sebelum menyaksikan penandatanganan MoU pengadaan PSEL oleh tiga daerah di Rumah Jabatan Gubernur Sulsel, Makassar, Sabtu (4/04/2026). ANTARA/Nur Suhra Wardyah.)

Pantau - Tiga daerah di Sulawesi Selatan yakni Kota Makassar, Kabupaten Gowa, dan Kabupaten Maros akan mengolah sampah menjadi energi listrik melalui program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).

Program ini ditandai dengan penandatanganan perjanjian kolaborasi lintas daerah yang disaksikan Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq dan Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman di Rumah Jabatan Gubernur Sulsel, Makassar.

Solusi Sampah Jadi Energi

"Timbunan sampah hampir mencapai 2.000 ton per hari di tiga kabupaten-kota itu, maka penyelesaian yang paling cepat tentu waste to energy. Ini yang kemudian telah dikeluarkan melalui Peraturan Presiden Nomor 109," ungkapnya.

Fasilitas PSEL diproyeksikan mampu mengolah sekitar 1.000 ton sampah per hari dengan rincian pasokan dari Makassar 800 ton, Gowa 150 ton, dan Maros 50 ton per hari.

Dari jumlah tersebut, listrik yang dihasilkan diperkirakan mencapai 20 hingga 25 MegaWatt tergantung kualitas sampah.

Program ini juga diharapkan mampu mengurangi timbunan sampah harian hingga 20 persen.

Pendekatan Aglomerasi dan Tantangan

Kapasitas pengangkutan sampah di Makassar saat ini baru mencapai sekitar 67 persen sehingga masih perlu ditingkatkan untuk mendukung optimalisasi program.

Program PSEL merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto dalam menangani kondisi darurat sampah secara sistemik.

"Ini suatu langkah panjang yang telah dilakukan, pelaksanaan kegiatan ini diharapkan mampu memotong generasi dari pengelolaan sampah sekarang ini," ujarnya.

Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menyebut kerja sama dilakukan dengan pendekatan aglomerasi agar persoalan sampah dapat diselesaikan secara bersama antarwilayah.

Kondisi tempat pembuangan akhir yang rata-rata telah berusia sekitar 17 tahun menjadi salah satu alasan percepatan program ini.

Penulis :
Gerry Eka
Editor :
Tria Dianti