
Pantau - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap mi lethek khas Yogyakarta berpotensi menjadi alternatif pangan sehat karena memiliki karakteristik pati yang dicerna lebih lambat oleh tubuh.
Kandungan Pati dan Indeks Glikemik
Peneliti Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) BRIN Hermawan menyebut mi lethek mengandung sekitar 63 persen slowly digestible starch (SDS).
"Pelepasan glukosa ke dalam darah berlangsung bertahap, sehingga tidak memicu lonjakan gula darah yang cepat," ujarnya.
Ia menjelaskan indeks glikemik mi lethek berada di kisaran 68–69, lebih rendah dibandingkan mi instan berbahan terigu yang umumnya berada di atas angka 80.
Proses Tradisional Jadi Kunci Keunggulan
Menurut Hermawan, keunggulan tersebut dipengaruhi proses produksi tradisional berbahan dasar singkong yang melalui tahapan fermentasi, penggilingan batu, pengukusan berulang, hingga penjemuran alami.
"Teknik pengolahan ini berperan dalam membentuk struktur pati yang lebih kompleks, sehingga lebih lambat dicerna tubuh. Proses yang diwariskan secara turun-temurun tersebut terbukti memberikan dampak signifikan terhadap kualitas nutrisi dan karakteristik pencernaan produk," katanya.
Temuan ini membuka peluang pengembangan mi lethek sebagai bagian dari diversifikasi pangan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada gandum impor.
Sebagai tambahan, BRIN mendorong inovasi lanjutan melalui fortifikasi bahan lokal tanpa menghilangkan karakter tradisional produk tersebut.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








