
Pantau - Pakar Hubungan Internasional Emir Chairullah menilai semangat Konferensi Asia Afrika (KAA) tetap hidup dan relevan hingga kini, namun implementasinya kerap terhambat oleh kepentingan elite dan dinamika politik global.
Implementasi Terkendala Kepentingan Politik
Emir menyatakan bahwa nilai-nilai KAA, termasuk Dasasila Bandung, masih menjadi rujukan penting dalam hubungan internasional.
“Semangatnya masih ada, menurut saya tidak hilang. Simbolis juga tidak. Masalahnya implementasi. Implementasi itu tergantung pimpinan atau rezim yang berkuasa,” ungkapnya.
Ia menjelaskan prinsip-prinsip seperti kedaulatan negara, non-intervensi, dan penghormatan hak asasi manusia tetap relevan, namun sering berbenturan dengan kepentingan nasional dan elite politik.
“Yang kemudian berbenturan itu adalah kepentingan dari masing-masing pimpinan negaranya. Pimpinan masing-masing negara itu, yang mungkin ada yang mendekatkan diri dengan Global North, karena mungkin dia dapat keuntungan secara finansial, yang kemudian tidak memedulikan warganya,” ujarnya.
Peluang Indonesia Hidupkan Kembali Semangat KAA
Menurut Emir, konflik antarnegara saat ini tidak semata kehendak rakyat, melainkan dipengaruhi kepentingan elite dan kekuatan global, yang bahkan memunculkan pola kolonialisme modern melalui eksploitasi sumber daya.
Ia menilai Indonesia sebagai salah satu inisiator KAA memiliki peluang untuk kembali mendorong solidaritas negara berkembang.
“Sebenarnya peluang itu ada, selalu ada karena gimana juga Indonesia adalah inisiatornya. Termasuk inisiatornya untuk melakukan pembebasan terhadap dari yang namanya kolonialisme,” katanya.
Namun, ia mengingatkan bahwa diplomasi Indonesia perlu seimbang antara menjalin hubungan dengan negara besar dan memperkuat solidaritas Asia-Afrika sesuai semangat KAA.
Konferensi Asia Afrika digelar di Bandung pada 18–24 April 1955 dengan melibatkan 29 negara, yang menghasilkan Dasasila Bandung sebagai prinsip dasar kerja sama dan perdamaian dunia.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








