
Pantau - Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru Kemendikdasmen melaksanakan program pelatihan pendidikan inklusif di 25 provinsi untuk memperkuat layanan bagi siswa berkebutuhan khusus.
Program ini melibatkan pelatihan ribuan guru pendamping khusus guna meningkatkan kompetensi profesional dalam mendampingi siswa berkebutuhan khusus di berbagai jenjang pendidikan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menyampaikan, "Program Pelatihan Pendidikan Inklusif ini adalah program yang kami selenggarakan dalam rangka memenuhi kebutuhan guru profesional untuk mendampingi anak-anak yang berkebutuhan khusus", ungkapnya.
Kebutuhan guru profesional di bidang pendidikan inklusif saat ini menjadi salah satu tantangan prioritas dalam sistem pendidikan nasional.
Program ini ditujukan bagi guru pendamping tingkat mahir dan dirancang untuk dilaksanakan secara berkelanjutan di berbagai wilayah Indonesia.
Target Pemerataan Layanan Pendidikan Inklusif
Pemerintah menargetkan agar seluruh anak berkebutuhan khusus dapat terlayani baik di sekolah inklusi maupun sekolah luar biasa.
Abdul Mu'ti menyatakan, "Ini adalah program untuk para guru pendamping tingkat mahir. Nanti secara keseluruhan program ini akan terus kita laksanakan, sehingga anak-anak berkebutuhan khusus dapat semakin terlayani di sekolah-sekolah inklusi maupun juga mereka yang harus belajar di sekolah-sekolah luar biasa", ujarnya.
Selain itu, pemerintah juga mengembangkan layanan pendidikan inklusif berbasis masyarakat bagi anak yang belum dapat mengakses sekolah formal.
Program berbasis masyarakat tersebut telah mulai berjalan di beberapa daerah dengan hasil yang dinilai baik.
Abdul Mu'ti menegaskan, "Kita berusaha untuk menjangkau yang tidak terjangkau bagi anak-anak kita, sehingga semua anak Indonesia sesuai dengan arahan Bapak Presiden dapat mendapat pendidikan yang bermutu", tegasnya.
Ia juga menambahkan, "Mereka adalah anak-anak yang jika kita berikan pendampingan, insya Allah dapat menjadi sumber daya manusia Indonesia yang umur yang berkualitas. Ini adalah bukti pemerintah untuk memberikan layanan pendidikan seumur untuk semua", tambahnya.
Dukungan DPR dan Target Kuota Guru
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Himmatul Aliyah memberikan apresiasi terhadap langkah Kemendikdasmen dalam memperkuat pendidikan inklusif di Indonesia.
Ia berharap sarana dan prasarana pendukung seperti jalur tunanetra dan rampa kursi roda dapat terpenuhi secara bertahap di berbagai sekolah.
Himmatul Aliyah menyampaikan, "Dengan adanya program ini mudah-mudahan segala kekurangan yang ada bisa terpenuhi. Memang tidak bisa semuanya, bertahap, tetapi ini adalah satu langkah yang luar biasa", ungkapnya.
Program Pelatihan Pendidikan Inklusif Tahun 2026 memiliki kuota sebanyak 1.500 guru dengan jumlah peserta yang saat ini baru terisi sekitar 60 persen.
Program ini akan terus berlanjut dengan target rasio guru pendamping khusus sebesar 1:15, yang berarti satu guru akan menangani 15 peserta didik di sekolah inklusi di seluruh Indonesia.
- Penulis :
- Leon Weldrick








