
Pantau - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono optimistis pembangunan Sekolah Rakyat Wonolopo di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, dapat selesai tepat waktu pada Juni 2026 meski saat ini mengalami keterlambatan progres sekitar 4,5 persen.
Progres dan Upaya Percepatan Pembangunan
Ia mengungkapkan bahwa deviasi pembangunan tersebut sedang dikejar dengan berbagai langkah percepatan di lapangan.
"Perlu kita dorong lagi. Kita ingin percepat, ada sedikit keterlambatan kurang lebih 4,5 persen keterlambatan atau deviasi, nah ini yang sedang kita kejar," ungkapnya.
Untuk mengatasi tantangan teknis, jumlah tenaga kerja ditingkatkan dan penggunaan alat berat dimaksimalkan guna mempercepat pengerjaan.
"Alat-alat berat juga kita maksimalkan dan mudah-mudahan dengan itu semua, tadi saya tanya optimistis masih bisa mengejar sesuai dengan 'timeline' di bulan Juni," ia mengungkapkan.
Saat ini, progres pembangunan telah mencapai sekitar 38 persen dengan jumlah pekerja sekitar 840 orang dan akan terus ditambah.
Pembangunan tercepat terlihat pada bangunan sekolah dasar yang atapnya telah terpasang.
AHY menegaskan bahwa faktor keselamatan kerja tetap menjadi prioritas selama proses pembangunan berlangsung.
"Kita harapkan dalam waktu yang tidak terlalu lama, timeline-nya adalah Juni 2026 ini bisa dituntaskan sesuai tadi yang dilaporkan oleh Kepala Satker bahwa ada sejumlah tantangan di sana-sini tetapi pada umumnya ini terus dikerjakan secara intensif pagi, siang, malam bersama Abadi Karya Pradanaraya. Kita ingin ini bisa dituntaskan dengan baik," ujarnya.
Konsep Sekolah dan Dampak Ekonomi Lokal
Sekolah Rakyat Wonolopo merupakan satu-satunya proyek sekolah rakyat di DIY yang dibangun di atas lahan seluas sekitar 7,1 hektare di Desa Gulurejo, Kecamatan Lendah.
Kawasan ini dirancang sebagai fasilitas pendidikan terintegrasi yang mencakup SD, SMP, dan SMA dengan berbagai fasilitas seperti ruang kelas, asrama, kantin, serta sarana olahraga.
Proyek senilai sekitar Rp214 miliar ini ditargetkan mampu menampung sekitar 1.080 siswa dan sekitar 1.200 tenaga pendidik.
AHY menyebut pembangunan Sekolah Rakyat merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memutus rantai kemiskinan antar generasi.
"Ini adalah sebuah konsep yang benar-benar menjadi solusi untuk bisa mengentaskan kemiskinan di berbagai daerah sesuai visi dan misi Presiden Prabowo Subianto bahwa Sekolah Rakyat hadir untuk memutus rantai kemiskinan antar generasi di berbagai daerah di seluruh Indonesia," ujarnya.
Sekolah ini ditujukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah dengan seluruh kebutuhan pendidikan ditanggung secara gratis.
"Dengan demikian, kita harapkan masyarakat terutama dari keluarga prasejahtera, masyarakat berpenghasilan rendah bisa menitipkan, menyekolahkan putra-putrinya di Sekolah Rakyat ini agar tidak membebani keluarga karena semuanya ditanggung, ini gratis. Sekolahnya gratis, makannya gratis, pakaiannya dan buku serta perlengkapan sekolah lainnya juga disiapkan," ia mengungkapkan.
Selain itu, proyek ini juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar melalui penyerapan tenaga kerja lokal dan penggunaan material setempat.
"Kita pastikan materialnya tadi saya tanya juga materialnya sudah hadir semua di sini, on site, baik pasir, batu, semen dan yang lain-lain. Ada yang tentunya sebagian besar dari Kulon Progo tapi yang lainnya juga bisa dibawa dari atau didatangkan dari tempat-tempat lainnya. Tenaga kerja juga demikian, banyak masyarakat lokal dan ratusan pekerja dari berbagai daerah, ini juga akan menghidupkan kampung atau sekitar, ekonomi lokal, UMKM, penginapan, rumah-rumah warga untuk dijadikan penginapan, ini bisa tumbuh dengan baik," ujarnya.
Pada tahap kedua, pemerintah juga tengah membangun 104 Sekolah Rakyat di berbagai wilayah Indonesia sebagai bagian dari program nasional.
- Penulis :
- Leon Weldrick








