
Pantau - Kepala Basarnas Mohammad Syafii menginstruksikan tim SAR untuk tidak menggeser gerbong KRL dalam proses evakuasi korban tabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, guna menghindari risiko cedera lebih fatal.
Evakuasi Gunakan Teknik Khusus
Syafii menegaskan proses penyelamatan dilakukan dengan teknik cutting dan lifting untuk memisahkan korban dari jepitan material tanpa menggeser badan kereta.
"Kami tidak ingin ada pergerakan yang malah memperburuk kondisi mereka. Ekstrikasi dilakukan secara perlahan hingga badan korban terpisah dari material yang menghimpit," ungkapnya.
Ia menyebut peristiwa ini sebagai duka mendalam dan memastikan tim SAR gabungan bekerja maksimal demi keselamatan seluruh korban.
"Kejadian ini merupakan duka mendalam bagi kita semua. Kami mohon doa dari seluruh rakyat Indonesia agar proses evakuasi ini bisa segera tuntas dan seluruh korban dapat segera dikeluarkan dalam kondisi selamat," ujarnya.
Data Korban dan Proses Pencarian
Insiden terjadi pada Senin (27/4) pukul 20.55 WIB saat KA Argo Bromo Anggrek rute Gambir–Surabaya Pasar Turi bertabrakan dengan rangkaian KRL di Stasiun Bekasi Timur.
Hingga pukul 05.11 WIB, dilaporkan masih terdapat tiga dari tujuh penumpang yang terjepit di gerbong KRL nomor 8 yang merupakan gerbong khusus wanita.
Jumlah korban meninggal dunia tercatat sebanyak lima orang dalam peristiwa tersebut.
Tim SAR juga melakukan penyisiran ke seluruh bagian gerbong untuk memastikan tidak ada korban yang tertinggal di lokasi kejadian.
Seluruh barang milik penumpang yang ditemukan akan diamankan dan diserahkan kepada pihak kepolisian.
Pihak KAI menyatakan pembaruan informasi terkait proses evakuasi akan disampaikan secara berkala setiap dua jam.
- Penulis :
- Aditya Yohan







