HOME  ⁄  Nasional

ISI Yogyakarta Dorong Seni Jadi Media Edukasi dan Pemulihan Bencana Masyarakat

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

ISI Yogyakarta Dorong Seni Jadi Media Edukasi dan Pemulihan Bencana Masyarakat
Foto: Dosen Jurusan Tata Kelola Seni ISI Yogyakarta Mikke Susanto (kedua kanan) menyampaikan materi dalam diskusi panel peringatan 20 tahun Gempa Yogyakarta di Kampus ISI Yogyakarta, Bantul, Jumat (8/5/2026). Dalam diskusi tersebut, Mikke mendorong seni menjadi medium edukasi, pemulihan emosional, dan advokasi publik dalam membangun ketangguhan bencana masyarakat. (sumber: ANTARA/Rahid Putra Laksana)

Pantau - Staf pengajar Jurusan Tata Kelola Seni Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Mikke Susanto, mendorong karya seni dijadikan medium edukasi, pemulihan emosional, dan advokasi publik untuk membangun ketangguhan bencana masyarakat dalam diskusi “Peran Budaya dalam Membangun Ketangguhan Bencana pada Masyarakat” di Kampus ISI Yogyakarta, Jumat.

Seni Jadi Representasi dan Advokasi Bencana

Mikke menyebut terdapat tiga relasi penting antara seni dan bencana yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap risiko kebencanaan.

“Sedikitnya ada tiga relasi penting antara seni dan bencana, yakni bencana sebagai representasi dalam karya, seni sebagai bagian dari pemulihan, serta seni sebagai advokasi publik,” ungkapnya.

Menurut Mikke, seniman memiliki cara berbeda dalam mencatat peristiwa bencana sekaligus mengingatkan masyarakat agar dampak serupa tidak kembali terjadi dengan korban lebih besar.

“Seniman selalu punya upaya untuk mencatat sekaligus mengingatkan, jangan sampai terjadi korban lebih banyak dari yang dulu,” katanya.

Diskusi tersebut digelar dalam rangka memperingati 20 tahun Gempa Jogja dan menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi, pemerintah, hingga seniman.

Seni Dinilai Penting untuk Pemulihan Emosional

Mikke mengatakan seni juga berperan penting dalam membantu pemulihan emosional masyarakat setelah bencana, termasuk pascagempa Yogyakarta 2006.

Ia mengenang suasana malam setelah gempa di kawasan Sewon, Bantul, ketika masyarakat tetap menghadirkan ekspresi karawitan sederhana di tengah kondisi gelap dan penuh keterbatasan.

Menurutnya, ketenangan emosional menjadi langkah awal yang penting sebelum masyarakat dapat mengambil keputusan rasional setelah terjadi bencana.

“Secara emosi kita harus tenang dulu. Masyarakat harus tenang dulu secara emosional, kemudian baru melaksanakan sesuatu secara rasional,” ujarnya.

Mikke menilai literasi budaya visual penting untuk membantu masyarakat memahami risiko bencana melalui pendekatan yang kreatif dan mudah diterima publik.

“Pendekatan seni dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk, mulai dari karya visual, pertunjukan, konten edukatif, hingga praktik partisipatif yang melibatkan masyarakat,” katanya.

Dalam forum tersebut, Mikke juga mengusulkan agar perguruan tinggi seni mempertimbangkan mata kuliah khusus mengenai hubungan seni dan kebencanaan.

“Saya mengusulkan kalau ada mata kuliah seni dan kebencanaan, karena kita ada di lokasi yang paling utama,” ucapnya.

Diskusi itu turut menghadirkan Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK Andre Notohamijoyo, Rektor ISI Yogyakarta Irwandi, Guru Besar Sosiologi Kebencanaan Universitas Pertahanan Syamsul Maarif, serta seniman Endang Lestari.

Penulis :
Leon Weldrick